Assalamu'alaykum...

Seorang hamba yang fakir dan naif. Yang kini tengah merasakan beragam bentuk tarbiyah dari Allah swt. Ya, seorang itu adalah saya, Teguh Prasetyo Utomo, seorang pembelajar yang selalu terus belajar untuk menggapai ridho-Nya.

author

Menjadi Muslim Sejati (2) : 10 Karakter Pribadi Muslim

3 comments
Menyambung tulisan sebelumnya yaitu Menjadi Muslim Sejati (1), kita akan membahas tentang bagaimana seorang muslim yang sejati itu berkarakter dalam setiap sisi kehidupannya. Bukan karakter ketika sholat saja, bukan karakter ketika puasa saja, ataupun karakter di saat berhaji saja. Bukan. Akan tetapi, karakter yang harus dibangun dan dibina oleh seorang muslim yang sejati adalah karakter di setiap sisi kehidupannya, di setiap hela nafasnya, dan disetiap denyut nadinya. Di manapun, kapanpun, bagaimanapun, karakter itu harus senantiasa melekat dalam diri seorang muslim.

Lalu bagaimana dan apa saja karakter muslim sejati itu? Ada 10 karakter utama yang harus dimiliki oleh seorang muslim yang sejati, yaitu sebagai berikut.

1. Salimul Aqidah (Good Faith)

Aqidah yang bersih (salimul aqidah) merupakan sesuatu yang harus ada pada setiap muslim. Dengan aqidah yang bersih, seorang muslim akan memiliki ikatan yang kuat kepada Allah Swt dan dengan ikatan yang kuat itu dia tidak akan menyimpang dari jalan dan ketentuan- ketentuan-Nya. Dengan kebersihan dan kemantapan aqidah, seorang muslim akan menyerahkan segala perbuatannya kepada Allah sebagaimana firman-Nya yang artinya: ‘Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku, semua bagi Allah Tuhan semesta alam’ (QS Al-An'am: 162). Karena memiliki aqidah yang salim merupakan sesuatu yang amat penting, maka dalam da’wahnya kepada para sahabat di Makkah, Rasulullah Saw mengutamakan pembinaan aqidah, iman atau tauhid.

2. Shahihul Ibadah (Right Devotion)

Ibadah yang benar (shahihul ibadah) merupakan salah satu perintah Rasulullah Saw yang penting, dalam satu haditsnya; beliau menyatakan: "Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku shalat." Dari ungkapan ini maka dapat disimpulkan bahwa dalam melaksanakan setiap peribadatan haruslah merujuk kepada sunnah Rasulullah Saw yang berarti tidak boleh ada unsur penambahan atau pengurangan.

3. Matinul Khuluq (Strong Character)

Akhlak yang kokoh (matinul khuluq) atau akhlak yang mulia merupakan sikap dan prilaku yang harus dimiliki oleh setkal muslim, baik dalam hubungannya kepada Allah maupun dengan makhluk-makhluk-Nya. Dengan akhlak yang mulia, manusia akan bahagia dalam hidupnya, baik di dunia apalagi di akhirat. Karena begitu penting memiliki akhlak yang mulia bagi umat manusia, maka Rasulullah Saw diutus untuk memperbaiki akhlak dan beliau sendiri telah mencontohkan kepada kita akhlaknya yang agung sehingga diabadikan oleh Allah di dalam Al- Qur’an, Allah berfirman yang artinya: "Dan sesungguhnya kamu benar- benar memiliki akhlak yang agung." (QS Al-Qalam: 4).

4. Qowiyyul Jismi (Physical Power)

Kekuatan jasmani (qowiyyul jismi) merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang harus ada. Kekuatan jasmani berarti seorang muslim memiliki daya tahan tubuh sehingga dapat melaksanakan ajaran Islam secara optimal dengan fisiknya yang kuat. Shalat, puasa, zakat dan haji merupakan amalan di dalam Islam yang harus dilaksanakan dengan fisik yang sehat atau kuat, apalagi perang di jalan Allah dan bentuk- bentuk perjuangan lainnya.

Oleh karena itu, kesehatan jasmani harus mendapat perhatian seorang muslim dan pencegahan dari penyakit jauh lebih utama daripada pengobatan. Meskipun demikian, sakit tetap kita anggap sebagai sesuatu yang wajar bila hal itu kadang-kadang terjadi, dan jangan sampai seorang muslim sakit-sakitan. Karena kekuatan jasmani juga termasuk yang penting, maka Rasulullah Saw bersabda yang artinya: "Mu’min yang kuat lebih aku cintai daripada mu’min yang lemah." (HR. Muslim).

5. Mutsaqqoful Fikri (Thinking Brilliantly)

Intelek dalam berpikir (mutsaqqoful fikri) merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang penting. Karena itu salah satu sifat Rasul adalah fatonah (cerdas) dan Al-Qur’an banyak mengungkap ayat-ayat yang merangsang manusia antuk berpikir, misalnya firman Allah yang artinya: Mereka bertanya kepadamu tentang, khamar dan judi. Katakanlah: ‘pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.’ Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: ‘Yang lebih dari keperluan.’ Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berpikir (QS Al-Baqarah: 219).

Di dalam Islam, tidak ada satupun perbuatan yang harus kita lakukan, kecuali harus dimulai dengan aktivitas berpikir. Karenanya seorang muslim harus memiliki wawasan keislaman dan keilmuan yang luas. Bisa kita bayangkan, betapa bahayanya suatu perbuatan tanpa mendapatka pertimbangan pemikiran secara matang terlebih dahulu. Oleh karena itu Allah mempertanyakan kepada kita tentang tingkatan intelektualitas seseorang sebagaimana firman-Nya yang artinya: "Katakanlah: Samakah orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui, sesungguhnya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran." (QS Az-Zumar: 9).

6. Mujahadatun Linafsihi (Continence)

Berjuang melawan hawa nafsu (mujahadatun linafsihi) merupakan salah satu kepribadian yang harus ada pada diri seorang muslim, karena setiap manusia memiliki kecenderungan pada yang baik dan yang buruk. Melaksanakan kecenderungan pada yang baik dan menghindari yang buruk amat menuntut adanya kesungguhan dan kesungguhan itu akan ada manakala seseorang berjuang dalam melawan hawa nafsu. Oleh karena itu hawa nafsu yang ada pada setkal diri manusia harus diupayakan tunduk pada ajaran Islam, Rasulullah Saw bersabda yang artinya: "Tidak beragmana seseorang dari kamu sehingga ia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (ajaran islam)." (HR. Hakim).

7. Harishun ‘ala Waqtihi (Good time management)

Pandai mengelola waktu (harishun ala waqtihi) merupakan faktor penting bagi manusia. Hal ini karena waktu itu sendiri mendapat perhatian yang begitu besar dari Allah dan Rasul-Nya. Allah Swt banyak bersumpah di dalam Al-Qur’an dengan menyebut nama waktu seperti wal fajri, wad dhuha, wal asri, wallaili dan sebagainya. Allah Swt memberikan waktu kepada manusia dalam jumlah yang sama setiap, Yakni 24 jam sehari semalam. Dari waktu yang 24 jam itu, ada manusia yang beruntung dan tak sedikit manusia yang rugi. Karena itu tepat sebuah semboyan yang menyatakan: "Lebih baik kehilangan jam daripada kehilangan waktu.". Bahkan Prof. Usman Rianse, Rektor Universitas Haluoleo Kendari pernah menyampaikan di sela pelatihan MHMMD untuk 11.000 mahasiswa baru Universitas Haluoleo. "Sahabat kita yang paling kejam adalah waktu. Oleh karena itu, manfaatkanlah setiap waktu yang kalian miliki untuk hal-hal yang bermanfaat.".

Waktu merupakan sesuatu yang cepat berlalu dan tidak akan pernah kembali lagi. Oleh karena itu setiap muslim amat dituntut untuk memanaj waktunya dengan baik, sehingga waktu dapat berlalu dengan penggunaan yang efektif, tak ada yang sia-sia. Maka di antara yang disinggung oleh Nabi Saw adalah memanfaatkan momentum lima perkara sebelum datang lima perkara, yakni waktu hidup sebelum mati, sehat sebelum sakit, muda sebelum tua, senggang sebelum sibuk dan kaya sebelum miskin.

8. Munazhzhamun fi Syu’unihi (Well Organized)

Teratur dalam suatu urusan/pekerjaan (munzhzhamun fi syuunihi) termasuk kepribadian seorang muslim yang ditekankan oleh Al-Qur’an maupun sunnah. Oleh karena itu dalam hukum Islam, baik yang terkait dengan masalah ubudiyah maupun muamalah harus diselesaikan dan dilaksanakan dengan baik. Ketika suatu urusan ditangani secara bersama-sama, maka diharuskan bekerjasama dengan baik sehingga Allah menjadi cinta kepadanya. Dengan kata lain, suatu udusán dikerjakan secara profesional, sehingga apapun yang dikerjakannya, profesionalisme selalu mendapat perhatian darinya. Bersungguh-sungguh, bersemangat dan berkorban, adanya kontinyuitas dan berbasih ilmu pengetahuan merupakan diantara yang mendapat perhatian secara serius dalam menunaikan tugas-tugasnya.

9. Qodirun ‘alal Kasbi (Independent)

Memiliki kemampuan usaha sendiri atau yang juga disebut dengan mandiri (qodirun alal kasbi) merupakan ciri lain yang harus ada pada seorang muslim. Ini merupakan sesuatu yang amat diperlukan. Mempertahankan kebenaran dan berjuang menegakkannya baru bisa dilaksanakan manakala seseorang memiliki kemandirian, terutama dari segi ekonomi. Tak sedikit seseorang mengorbankan prinsip yang telah dianutnya karena tidak memiliki kemandirian dari segi ekonomi. Karena itu pribadi muslim tidaklah mesti miskin, seorang muslim boleh saja kaya raya bahkan memang harus kaya agar dia bisa menunaikan haji dan umroh, zakat, infaq, shadaqah, dan mempersiapkan masa depan yang baik. Oleh karena itu perintah mencari nafkah amat banyak di dalam Al-Qur’an maupun hadits dan hal itu memilik keutamaan yang sangat tinggi. Dalam kaitan menciptakan kemandirian inilah seorang muslim amat dituntut memiliki keahlian apa saja yang baik, agar dengan keahliannya itu menjadi sebab baginya mendapat rizki dari Allah Swt, karena rizki yang telah Allah sediakan harus diambil dan mengambilnya memerlukan skill atau ketrampilan.

10. Naafi’un Lighoirihi (Giving Contribution)

Bermanfaat bagi orang lain (nafi’un lighoirihi) merupakan sebuah tuntutan kepada setiap muslim. Manfaat yang dimaksud tentu saja manfaat yang baik sehingga dimanapun dia berada, orang disekitarnya merasakan keberadaannya karena bermanfaat besar. Maka jangan sampai seorang muslim adanya tidak menggenapkan dan tidak adanya tirák mengganjilkan. Ini berarti setiap muslim itu harus selalu berpikir, mempersiapkan dirinya dan berupaya semaksimal untuk bisa bermanfaat dalam hal-hal tertentu sehingga jangan sampai seorang muslim itu tidak bisa mengambil peran yang baik dalam masyarakatnya. Dalam kaitan inilah, Rasulullah saw bersabda yang artinya: "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain." (HR. Qudhy dari Jabir).

Demikianlah 10 karakter utama yang harus dimiliki oleh seorang muslim sejati. Harapan kita, marilah kita bersama-sama membangun karakter tersebut, menjaga karankter tersebut, dan selalu meningkatkan dan meng-istiqomah-kan karakter tersebut di dalam diri kita.
Read More

Menjadi Muslim Sejati (1)

1 comment


Menjadi seorang muslim haruslah dilakukan secara kaffah, yaitu dengan menjadi muslim secara total dengan melaksanakan secara keseluruhan ajaran Islam di dalam berbagai aspek dan sisi kehidupan. Bukan hanya pada tataran ibadah semata, melainkan juga pada tataran kehidupan yang lain seperti pada tataran kehidupan sosial, bermasyarakat, dunia kerja, pendidikan, kenegaraan, dan seluruh kehidupan seorang muslim dari A sampai dengan Z. Seorang muslim harus menjalankan dan menerapkan Islam secara menyeluruh, bukan menjadi seorang muslim yang setengah-setengah yang pilih-pilih terhadap penerapan ajaran Islam menurut kepentingannya, atau sekedar muslim-musliman yang mana Islam hanya sebagai simbol dan identitas semata. Na'udzubillah..

Permasalahannya adalah, saat ini banyak kita temui umat Islam luntur (kalau tidak mau dikatakan hilang) jatidiri keislamannya. Banyak di antara umat Islam yang memandang pesimis bahkan cenderung sinis terhadap ajaran Islam, mencibir dan mencemooh orang-orang yang hendak menjalankan islam secara total dalam kehidupan mereka. Misal satu contoh yang sering kita temui salah satunya adalah tentang berjabat tangan dengan lawan jenis yang bukan mahrom. Rasulullah SAW sudah jelas mensabdakan, dari Ma’qil bin Yasar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ رَجُلٍ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لا تَحِلُّ لَهُ

“Ditusuknya kepala seseorang dengan pasak dari besi, sungguh lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang bukan mahramnya.” (HR. Thobroni dalam Mu’jam Al Kabir 20: 211. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Dari hadits tersebut sudah jelas bagaimana kerasnya ancaman perbuatan tersebut (bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan mahrom tanpa hijab), walau hadits tersebut dipermasalahkan keshahihannya oleh ulama lainnya. Akan tetapi di sini kita tidak perlu berpolemik tentang hal tersebut. Sebagai seorang muslim, baiknya kita ebih mengambil sikap yang cenderung menyelamatkan kita dari dosa, yaitu dengan sebisa mungkin menghindari bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan mahrom tanpa hijab itu tadi. Kalaupun di antara kita ada yang belum bisa melaksanakan hal tersebut karena alasan tertentu, baiknya kita tidak mencibir dan mencemooh mereka yang melakukan hal tersebut. Ini salah satu contoh. Maka dari itu, penting kiranya kita sebagai umat muslim memiliki rasa dan semangat untuk selalu meningkatkan kualitas keimanan kita secara tersu menerus, sehingga nantinya bisa menjadi seorang muslim yang sejati.

Karakter seorang muslim harus kita bangun dalam diri kita. Bukan dalam tataran ibadah semata, melainkan dalam seluruh aspek kehidupan kita. Misalnya saja ketika kita sholat, kita menutup aurat. Maka dalam keseharian pun kita wajib menutup aurat kita. Contoh lagi ketika kita sholat, kita dalam kedaan suci. Maka dalam keseharian pun kita harus selalu menjaga kesucian (dan kehormatan) kita baik lahir maupun batin. Pun demikian dengan hal-hal lainnya. Islam harus kita amalkan di dalam setiap lini kehidupan kita. Karakter ini harus selalu kita bangun, kita jaga dan kita tingkatkan kualitasnya.

Lalu, bagaimana sebetulnya karakter seorang muslim yang sejati itu?
Read More

Rasulullah Berpoligami? Benar, Tapi...

Leave a Comment

Kanjeng Nabi istrinya banyak? Benar. Rasulullah berpoligami? Iya. Tapi sahabat, tahukah kenapa beliau berpoligami? Tahukan kenapa beliau menikahi banyak wanita? Kiranya tulisan ini bisa menjadikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dan juga beragam pernyataan yang banyak dilontarkan oleh orang-orang yang membenci Islam dengan mengangkat isu poligami Rasulullah sebagai bahan untuk menjatuhkan citra Islam. Ini juga inspirasi dan perenungan bagi kita, para lelaki muslim, yang hendak menjadikan poligami yang dilakukan Rasulullah sebagai bahan pembenaran semata untuk kita melakukan poligami dengan niat yang tidak benar.



"Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya." (Q.S. An-Nisa: 3).
Berikut nama-nama istri Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, usia mereka dinikahi, usia Rasul menikahi, statusnya, kondisinya, serta alasan mengapa Rasul menikahinya.

1. Nama : Khadijah
Status : 2 kali janda
Usia Dinikahi : 40 thn
Usia Rasul : 25 thn
Kondisinya : Pengusaha, Keturunan Bangsawan, memiliki 4 anak dari pernikahan sebelumnya, memiliki 6 anak dari Rasulullah.
Alasan dinikahi: Petunjuk Allah, karena dia adalah wanita pertama yang memeluk islam, dan mendukung dakwah Nabi

2. Nama : Aisyah ra
Status : Gadis
Usia Dinikahi : 11 tahun (tetapi tinggal serumah dengan Nabi setelah usia 19 tahun)
Usia Rasul : 52 tahun
Kondisinya : Cantik, cerdas, putri Abu Bakar Ash-Shiddiq.
Alasannya : petunjuk Allah (lewat mimpinya 3 malam berturut-turut).
Hikmahnya : Rasulullah mengajarkan tentang kewanitaan kepada Aisyah agar disampaikan kepada para umatnya kelak. Aisyah banyak meriwayatkan hadits dari Rasulullah yang disampaikan pada umat.

3. Nama : Saudah binti Zum’ah
Status : janda
Usia dinikahi : 70 thn
Usia Rasul : 52 thn
Kondisi : Wanita kulit hitam, janda dari sahabat nabi yang menjadi perisai Nabi saat perang. Memiliki 12 anak dari pernikahan dengan suami pertama.
Alasannya : Menjaga keimanan Saudah dari gangguan kaum musyrikin

4. Nama : Zainab Binti Jahsy
Status : Janda
Usia dinikahi : 45 thn
Usia Rasul : 56 thn
Kondisi : Mantan istri Zaid bin Haritsah.
Alasan : Perintah Allah bahwa pernikahan harus sekufu, Zainab adalah mantan istri anak angkatnya Rasulullah. Sekaligus menginformasikan bahwa anak angkat tidak bisa dijadikan anak kandung secara nasab. Maka istrinya tetap bukan mahrom untuk ayah angkatnya. Jadi boleh dinikahi.

5. Nama : Ummu Salamah
Status : Janda
Usia Dinikahi : 62 thn
Usia Rasul : 56 thn
Kondisi : Putri bibi Nabi, seorang janda yang pandai berpidato dan mengajar.
Alasan : Perintah Allah untuk membantu dakwah Nabi.

6. Nama : Ummu Habibah
Status : Janda
Usia dinikahi : 47 thn
Usia nabi : 57 tahun
Kondisi : mantan istri Ubaidillah bin Jahsy, cerai karena suaminya pindah agama menjadi Nashrani.
Alasan : Untuk Menjaga keimanan Ummu Habibah agar tidak murtad.

7. Nama : Juwairiyyah bin Al-Harits
Status : Janda
Usia dinikahi : 65 thn
Usia Nabi : 57 tahun
Kondisi : Tawanan perang yang dinikahi oleh Rasulullah, tidak memiliki sanak saudara, dan memiliki 17 anak dari pernikahan yang pertama.
Alasan : Petunjuk Allah, memerdekakan perbudakan dan pembebasan dari tawanan perang dan menjaga ketauhidan.

8. Nama : Shafiyah binti Hayyi
Status : 2 kali janda
Usia dinikahi : 53 thn
Usia Nabi : 58 tahun
Kondisi : Wanita muslimah dari kalangan Yahudi Bani Nadhir, memiliki 10 anak dari pernikahan sebelumnya.
Alasan : Rasulullah menjaga keimanan shafiyyah dari boikot orang Yahudi.

9. Nama :Maimunah Binti al-Harits
Status : Janda
Usia Dinikahi : 63 thn
Usia Nabi : 58 tahun
Kondisi : Mantan istri Abu Ruham bin Abdul Uzza
Alasan : Istri rasulullah dari kalangan yahudi bani kinanah. Menikah dengan rasulullah adalah untuk menjaga dan mengembangkan dakwah di kalangan bani nadhir.

10. Nama : Zainab binti Khuzaimah
Status : Janda
Usia Dinikahi : 50 thn
Usia Nabi : 58 tahun
Kondisi : Seorang janda yang banyak memelihara anak yatim dan orang yang lemah di rumahnya. Mendapat gelar Ummul Masakin (Ibu dari orang-orang miskin).
Alasan : Petunjuk allah untuk bersama2 menyantuni anak yatim dan orang lemah.

11. Nama : Maria Qibtiyyah
Status : Gadis
Usia dinikahi : 25 thn
Usia Nabi : 59 tahun
Kondisi : Seorang budak yang dihadiahkan oleh raja Muqauqis dari Mesir.
Alasan : Menikahi untuk memerdekakan dari kebudakan dan menjaga keimanan Mariyah

12. Nama : Hafsah binti Umar
Status : Janda
Usia dinikahi : 35 thn
Usia Nabi :61 tahun
Kondisi : Putri sabahat Umar bin Khattab. Janda dari Khunais bin Huzafah yang meninggal karena perang Uhud.
Alasan : Petunjuk Allah.
Hikmah : Hafsah adalah wanita pertama yang hafal Al-Qur’an. Dinikahi oleh Rasulullah agar bisa menjaga keotentikan Al Qur'an.

Maka inilah jawabannya, Rosulullah tiada pernah menikah dengan wanita-wanita tersebut hanya karena hawa nafsu beliau seperti yang dituduhkan orang-orang yang membenci beliau dan membenci Islam selama ini. Maka, ingatlah apa yang telah Allah swt firmankan...


"Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri- istri (mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. An-Nisa: 129)
Read More

Ya Robbi, Jagalah NU Kami...

2 comments

Saya sadar, saya bukan kader NU yang "sejati". Saya tidak pernah aktif di keorganisasian NU, PMII, Banser, ataupun keorganisasian berbasis NU yang lain. Saya bukanlah seorang santri tulen yang ngaji di pesantren-pesantren ternama di kalangan masyarakat Nahdliyin. Saya bukan anak atau keluarga yang menjadi pemuka NU.

Saya hanyalah seseorang yang merasa ikut memiliki NU, handarbeni NU. Karena saya lahir, besar, tumbuh dan hidup di kalangan masyarakat yang memegang nilai-nilai NU. Saya ngaji di mushola yang diajar oleh salah seorang kyai NU di kampung saya. Saya juga ngaji (lagi) di sebuah TPA (Taman Pendidikan Al-Qur'an) yang bernama TPA Manbaush Sholihin yang juga diasuh oleh salah seorang Kyai NU, Bpk Kyai Ruhani Roudli, AH. Di kampung saya terbiasa ikut yasinan, tahlilal, manaqiban, barzanji/diba'an, dan lain-lain sebagai mana masyarakat di kampung saya lakukan. Karena NU pula saya tahu tentang ibadah, baca Qur'an, tentang islam, tentang akhlak walaupun itu semua masih sangat sedikit (karena kebodohan saya).

Benar, sekali lagi, benar saya bukan orang NU yang benar-benar NU, seperti teman-teman saya yang banyak dari NU yang mereka benar-benar NU. Mereka aktif di keorganisasian NU, nyatri di pesantren-pesantren ternama NU, pinter baca kitab kuning, paham tentang segala seluk beluk ke-NU-an. Saya? Bukan apa-apa. Saya hanya memiliki kekaguman dan kerinduan kepada si mbah Kyai Hasyim Asyari, Mbah Moen, Gus Sholah, Gus Mus, Kyai Anwar Zahid...

Akan tetapi, walaupun seperti itu, barangkali rasa memiliki, roso handarbeni NU saya sama atau bahkan lebih besar daripada yang dirasakan teman-teman saya dan orang lain bahkan. Saya merasa tidak rela ketika NU disudutkan, NU dicaci maki, tradisi NU disalah-salahkan dan dibid'ah-bid'ahkan. Saya pun tidak rela jika NU kini dicap oleh (sebagian) orang sebagai organisasi yang telah tersusupi JIL (Jaringan Islam LIberal), tersusupi Syi'ah dan sebagainya.

Benar, saya tidak rela. Dan hati saya semakin sakit dan sedih ketika banyak melihat di pemberitaan bahwa momentum Muktamar NU yang ke-33 di Jombang diwarnai isu-isu dan berita negatif. Berita kegaduhan, perpecahan, money politic, dijaga pasukan Jin, bahkan berita tentang goyang oplosan di arena muktamar (astaghfirullah....) dan entah apalagi tersebar begitu luas dan booming di media massa. Saya tidak rela ketika berita-berita negatif itu semua dijadikan bahan olokan di media massa dan di media sosial.

Terahir saya membaca di sebuah harian, Gus Mus (KH Musthofa Bisri) sampai harus menangis dan hendak mencium kaki para mukatmirin demi menenangkan kegaduhan peserta muktamar.

Ya Allah... Entah apa yang tengah terjadi di dalam NU yang saya cintai ini, saya tidak tahu. Ya Robbi... jagalah NU kami ini, selamatkanlah NU kami ini dari orang-orang yang buruk dan ingin merusak NU kami ini.

... saya menangis karena NU yang selama ini dicitrakan sebagai organisasi keagamaan, panutan penuh dengan akhlakul karimah, yang sering mengkritik praktik-praktik tak terpuji dari pihak lain ternyata digambarkan di media massa begitu buruknya. Saya malu kepada Allah, malu pada KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Hasbullah, KH Bisri Syansuri dan para pendahulu kita. Lebih-lebih ketika saya disodori koran yang headlinenya ‘Muktamar NU Gaduh, Muktamar Muhammadiyah Teduh’.

... Di tanah ini terbujur kiai-kiai kita, di sini NU didirikan apa kita mau meruntuhkan di sini juga, Naudzubillah, saya mohon dengan kerendahan hati Anda melepasksan semuanya, dan memikirkan Allah dan pendiri kita.
Read More

Mamakku Tercinta, Selamat Ulang Tahun...

Leave a Comment

Ya, tangan itulah yang selalu menguatkanku hingga aku menjadi seperti sekarang ini. Ya, tangan itu yang selalu menjadi pembelaku di saat aku disakiti dan diolok oleh rekan sepermainan. Ya, tangan itulah yang selalu tiada lelah bekerja keras mencari nafkah demi mencukupi kehidupan aku dan adikku semenjak bapak tiada 18 tahun yang lalu. Ya, tangan itu pula yang kadang memukul kami dengan cinta, bukan itu menyakiti, tapi untuk mendidik kami dan menguatkan kepribadian kami.

Ya, kaki itulah yang selalu melangkah untuk dengan kuatnya demi sesuap nasi untuk anak-anaknya. Ya, kaki itu pula yang selalu menjadi tumpuan baginya untuk kuat menghadapi kerasnya kehidupan. Ya, kaki itu pula yang menemani langkahku menuju ke sekolah. Ya, kaki itu pula yang senantiasa segera berlari cepat di saat diri ini dalam kesulitan. Ya, kaki itulah yang senantiasa berdiri tegar untuk anak-anaknya tercinta.

Ya, wajah teduh itu, tutur lembut nan tegas itu, hati yang mulia itu, pribadi yang luar biasa itu, yang bibirnya tiada henti mengucap nasihat untukku. Yang bibirnya tiada henti memohon kepada-Nya untuk kebaikanku dan adikku. Ya, badan yang letih namun tak dirasakannya itulah yang selama ini menjadi sandaranku ketika aku terpuruk. Tangan dan tubuh yang tiada lelah dan bosan memeluk dan menguatkan diri ini saat diri ini dilanda keresahan.

Entah... rasanya tiada lagi ungkapan yang mampu aku sampaikan untuk menggambarkan kemuliaannya. Betapa mulia hati, jiwa, tutur kata dan segala yang ada padanya.

Dan kini, pada hari ini, Allah swt telah menggenapkan usianya yang ke-45 tahun. Hanya alunan doa dan doa yang bisa aku panjatkan pada Allah Sang penggenggam semesta, agar Dia selalu memberikan kebaikan dan kebarokahan dalam kehidupannya. Dipanjangkan umurnya, ditambahkan kesabarannya, diluaskan dan dibarokahkan rizkinya, serta disehatkan jiwa dan raganya. Hanya ucapan terimakasih yang tiada terhingga, yang dapat aku ucapkan untukmu Ibunda.

Barokallahu fi umurikum... Ananda sangat mencintaimu, walaupun sebesar apapun cintaku padamu, tiada akan pernah bisa menjadi penebus cinta dan pengorbananmu kepadaku, sampai kapanpun tiada akan pernah bisa. I love U Bundaku sayang, Ananda benar-benar mencintaimu...
Read More

Selamat Muktamar Nahdlatul Ulama ke-33, Selamat Muktamar Muhammadiyah ke-47

Leave a Comment

Sebuah bincang tentang 4 orang murid Syaikhana Cholil Bangkalan yang akan jadi tonggak dakwah Indonesia. Dari 4 orang murid Syaikhana Cholil itu, NU, Muhammadiyah, MIAI dan Masyumi terpondasi.
  1. Awal 1900-an 4 murid tamatkan pelajarannya pada Kyai Cholil di Bangkalan Madura. Menyeberangi selat, 2 ke Jombang, 2 ke Semarang.
  2. Dua murid yang ke Jombang, 1 dibekali cincin (kakek Cak Nun), 1 lagi KH Romli (ayah KH Mustain Romli) dibekali pisang mas.
  3. Dua murid yang ke Semarang; Hasyim Asy'ari & Muhammad Darwis, masing masing diberi kitab untuk dingajikan pada Kya Soleh Darat.
  4. Kyai Soleh Darat adalah ulama terkemuka, ahli nawawu, ahli tafsir, ahli falak; keluarga besar RA Kartini mengaji pada beliau. Bahkan atas masukan Kartini-lah, Kyai Soleh Darat menerjemahkan Al Quran ke dalam bahasa Jawa agar bisa difahami.
  5. Pada Kyai Soleh Darat, Hasyim dan Darwis (yang kemudian berganti nama jadi Ahmad Dahlan) belajar tekun dan rajin, lalu 'diusir'. Kedua sahabat itu; Hasyim Asy'ari dan Ahmad Dahlan diperintahkan Kyai Soleh Darat segera ke Mekkah untuk melanjutkan belajar.
  6. Setiba di Mekkah, keduanya nan cerdas menjadi murid kesayangan Imam Masjidil Haram, Syaikh Ahmad Khatib Al Minangkabawi. Tampaklah kecenderungan Hasyim yang sangat mencintai hadits, sementara Ahmad Dahlan tertarik bahasan pemikiran dan gerakan Islam.
  7. Tentu riwayat jalan berilmu mereka panjang. Saya akan melompat pada kepulangan mereka ketanah air & gerakan nan dilakukan.
  8. Hasyim Asy'ari pulang ke Jombang. Disana kakek Cak Nun (yang maafkan saya terlupa namanya) menantinya penuh rindu. Kakek Cak Nun nan 'sakti' inilah yang menaklukkan kawasan rampok dan durjana bernama Tebuireng untuk didirikan pesantren.
  9. Hasyim Asy'ari dia mohon agar mulai berkenan mulai mengajar disitu. Beliau membuka pengajian 'Shahih Al Bukhari' disana.
  10. Fahamlah kita, satu satunya orang yang bisa membujuk Gus Dur keluar istana saat impeachment dulu ya Cak Nun. Ini soal nasab.
  11. Saat disuruh mundur orang lain, Gus Dur biasanya jawab: "saya kok disuruh mundur, maju aja susah, harus dituntun!". Tapi Cak Nun tidak menyuruhnya mundur. Kata beliau "Gus, koen wis wayahe munggah pangkat!" Sudah saatnya naik jabatan!"..
  12. KH Romli Tamim yang juga di Jombang mendirikan pesantren di Rejoso, kelak jadi pusat Thariqoh Al Mu'tabarah yang disegani.
  13. Kembali ke Hadratusy Syaikh Hasyim Asy'ari, CATAT INI: beliaulah orang yang menjadikan pengajian hadist penting & terhormat. Sebelum Hadratusy Syaikh memulai ponpes Tebuireng-nya dengan kajian Shahih Al Bukhari, umumnya ponpes cuma ajarkan tarekat.
  14. Tebuireng makin maju, santri berdatangan dari seluruh nusantara. Hubungan baik terjalin dengan Kyai Hasbullah, Tambakberas. Putra Kyai Hasbullah, Abdul Wahab kelak jadi pendiri organisasi Islam terbesar yang dinisbatkannya pada Hadratusy Syaikh: NU. Konon selama KH Abdul Wahab Hasbullah dalam kandungan, ayahnya mengkhatamkan Alquran 100 kali diperdengarkan pada si janin.
  15. Tebuireng juga berhubungan baik dengan KH Bisyri Syamsuri Denanyar. Abdul Wahid Hasyim menikahi putri beliau (ibu Gus Dur).
  16. KH Bisyri Syansuri juga beriparan dengan KH Abdul Wahab Hasbullah. Inilah segitiga pilar NU; Tambakberas - Tebuireng - Denanyar.
  17. Satu waktu ada santri Hadratusy Syaikh melapor, dari Yogyakarta ada gerakan yang ingin memurnikan agama & aktif beramal usaha. "O kuwi Mas Dahlan", ujar Hadratusy Syaikh "Ayo padha disokong!". Itu Mas Dahlan, ayo kita dukung sepenuhnya.
  18. KH Ahmad Dahlan sang putra penghulu keraton itu amat bersyukur. Beliau kirimkan hadiah. Hubungan kedua keluarga makin akrab.
  19. Sampai generasi ke-4, putra putri Tebuireng yang kuliah di Yogya selalu kos di keluarga KH Ahmad Dahlan Kauman (Gus Dur juga).
  20. Sebagai bentuk dukungan pada perjuangan KH Ahmad Dahlan, Hadratusy Syaikh menulis kitab 'Munkarat Maulid Nabi wa Bida'uha', bagi Hadratusy Syaikh, itu banyak bid'ah & mafsadatnya. UNIK: satu satunya Kyai NU yang tidak diperingati HAUL nya ya beliau.
  21. Ketika akhirnya gesekan makin sering terjadi antara anggota Muhammadiyah vs kalangan pesantren, Hadratusy Syaikh turun tangan. "Kita & Muhammadiyah sama. Kita Taqlid Qauli (mengambil PENDAPAT 'ulama Salaf'), mereka Taqlid Manhaji (mengambil METODE)".
  22. Tetapi dipelopori KH Abdul Wahab Hasbullah, para murid menghendaki kalangan pesantren pun terorganisasi baik. NU berdiri. Direstui Hadratusy Syaikh, Abdul Wahab Hasbullah & rekan berangkat ke Mekkah menghadap raja Saudi sampaikan aspirasi Madzhab. Kepulangan mereka disambut Hadratusy Syaikh dengan syukur sekaligus meminta untuk terus bekerjasama dengan Muhammadiyah.
  23. Atas prakarsa Hadratusy Syaikh, KH Mas Mansur -Muhammadiyah- & tokoh lain, terbentuklah Majlisul Islam A'la Indunisiya (MIAI). (yang kemudian berubah menjadi Masyumi -red)
Mengapa kisah Kyai Chalil dari Bangkalan & murid-muridnya penting? Agar terjaga fikiran, lisan & perkataan kita yang mengaku...
Selamat Muktamar Nahdlatul Ulama ke-33
Selamat Muktamar Muhammadiyah ke-47
Read More

Kuku dan Kehidupan

Leave a Comment

Ya, benar. Kuku dan kehidupan. kehidupan ini ibaratkan kuku-kuku yang ada di jari-jari kita. bahwasanya Allah swt telah menciptakan kehidupan kita sedemikian rupa. Pas. Sudah ada ketentuan dan ketetapan dari-Nya. Seperti kuku-kuku di jari-jari kita, kehidupan pun memiliki batas yang jelas  untuk kita menjalani kehidupan tersebut.

Kita telah diperintahkan oleh Allah swt untuk menjalani kehidupan ini dengan tidak melampaui batas-batas yang telah Dia tentukan itu. Segala kegundahan, kegelisahan, kegalauan, kesedihan yang berlarut-larut, ratapan, merasa kurang, ambisius, nggigi mongso, nggrangsang, jauh dari kedamaian, adalah akibat dari kehidupan kita yang melampaui batas-batas yang telah Allah swt tentukan.

Seperti kuku, dalam perjalanan kehidupannya, kuku memiliki batas yang jelas. Dimana dari batasan itu, kuku memenuhi fungsinya yaitu utnuk melindungi ujung jari yang lembut dan penuh urat saraf, serta mempertinggi daya sentuh. Ketika kuku tumbuh panjang dan melebihi batas yang telah Allah swt tetapkan, maka kuku itu harus dipotong.

Kenapa demikian? Ini adalah untuk kebaikan dari pemilik kuku itu sendiri. ketika kuku dibiarkan tumbuh panjang melebihi batasannya, maka kuku itu bukan lagi sebagai pelindung tubuh (ujung jari-jari kita) tapi malah akan menjadi sumber petaka bagi kita. Bisa dimulai dari tempat tumbuh dan berkembangnya penyakit dari kuku-kuku yang panjang dan kotor, atau jikalaupun kuku-kuku itu dibersihkan secara rutin maka tetap saja akan sangat berpotensi menimbulkan masalah untuk diri kita, misalnya dengan kuku-kuku yang panjang, jari-jari kita rentan terluka ketika terantuk (terbentur) benda keras. Kuku akan copot dan berdarah-darahlah jari-jari kita.

Bagaimana kuku-kuku yang dipanjangkan dan dirawat dengan perawatan tertentu...? Bukankah ini bisa menjadikan keindahan bagi pemiliknya? Iya, keindahan semu. Karena semakin mahal perawatan yang kita lakukan, semakin indah kuku-kuku kita, maka apakah semakin tenang perasaan kita? Apakah semakin damai jiwa kita? Tidak. Justru sebaliknya, semakin kawatir hati kita jangan-jangan nanti kuku-kuku yang telah dirawat sedemikian rupa itu rusak karena suatu hal. Selain itu, perawatan yang dikeluarkan untuk kuku-kuku itu juga merupakan tindakan yang berlebihan dan melampaui batas (boros). Itu semua adalah tindakan yang sia-sia. Padahal jika kita bisa memahami lebih jauh tentang hal ini, cukup dengan dipotong secara rutin ketika kuku-kuku itu sudah mulai memanjang melebihi batasnya, selesai. Simpel dan tidak ribet.

Maka seperti itulah kehidupan kita. Allah swt telah mengkaruniakan kehidupan kita sedemikian rupa sesuai dengan batasan yang telah Dia tentukan. Dan yakinlah, batasan itu adalah sudah pas dan sesuai dengan kita. Ketika kita merasa kurang, merasa belum mencapai ini-itu, merasa belum memiliki ini-itu, maka hati-hatilah.. jangan-jangan kehidupan kita sudah "tumbuh" melampaui apa yang telah Allah swt bataskan.

Karena jika kita mampu dan mau hidup sejalan dengan batasan yang telah Allah swt tentukan, maka kehidupan kita akan damai dan sejahtera. Hati akan lebih lapang, jiwa akan terasa tenang, pikiranpun akan lebih terang. Lain halnya ketika kita dan pola kehidupan kita telah melampaui batasannya, maka yang ada adalah kegelisahan, kegalauan, resah, gundah, ngoyo, dan selanjutnya yang ada hanyalah kesia-siaan semata yang kita lakukan. Dan pada ahirnya, kita akan sangat jauh dari apa yang disebut dengan kebahagiaan.

Maka, kuncinya adalah bersyukur dan iklas. Bersyukur dengan merasa cukup dengan apa yang telah kita miliki dan kita raih saat ini Serta iklas, buang dan potong segala kelebihan angan-angan dan ambisi-ambisi yang terus menggelayuti kita. Yang mana jika itu semua kita biarkan tumbuh dan semakin memanjang seperti kuku-kuku di jari-jemari kita yang tidak dipotong, maka kehidupan kita itu akan sangat berpotensi menjadi tempat bersarangnya kotoran, penyakit dan kehinaan, serta akan semakin menjerumuskan kita kepada kesia-siaan dan ketidak-tenangan. Tapi ketika kita bisa menjalai kehidupankita sesuai denga batasan yang telah Allah swt tetapkan, maka kebahagiaan dan kedamaian akan melingkupi kehidupan kita. Dan yakinlah, Allah swt akan mencukupkan kebutuhan kita.

فَمَنِ ابْتَغى وَراءَ ذلِكَ فَأُولئِكَ هُمُ العادُونَ

"Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas." (QS. Al-Mu'minuun [23] : ayat 7)


إِنَّمَا السَّبيلُ عَلَى الَّذينَ يَظْلِمُونَ النَّاسَ وَ يَبْغُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ أُولٰئِكَ لَهُمْ عَذابٌ أَليمٌ


"Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih." (QS. Asy-Syuura [42] : ayat 42)

Wallahu a’lam bish-shawabi.
Read More
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home

Translate