Assalamu'alaykum...

Seorang hamba yang fakir dan naif. Yang kini tengah merasakan beragam bentuk tarbiyah dari Allah swt. Ya, seorang itu adalah saya, Teguh Prasetyo Utomo, seorang pembelajar yang selalu terus belajar untuk menggapai ridho-Nya.

author
Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts

Belajar Ilmu Agama Dengan Benar

Leave a Comment

Berpeganglah pada tali Allah

seorang Nabi baru akan melakukan kesalahan/ sesaat setelah dianggap salah oleh Allah, seketika itu juga turunlah Wahyu , karena Beliau memang Ma'shum...
.
Jika seorang Wali melakukan kesalahan, segera beliau mendapatkan Ilham , karena memang beliau Mahfudz...
.
Jika seorang Murid melakukan kesalahan, gurunya pasti akan menegurnya...

inilah warisan Nabi tak dapat diputar balikkan.

Ibnul Mubarak berkata : ”Sanad merupakan bagian dari agama, kalaulah bukan karena sanad, maka pasti akan bisa berkata siapa saja yang mau dengan apa saja yang diinginkannya (dengan akal pikirannya sendiri).” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Muqoddimah kitab Shahihnya 1/47 no:32)

Imam Syafi’i ~rahimahullah mengatakan “tiada ilmu tanpa sanad”.

Imam Malik ra berkata: “Janganlah engkau membawa ilmu (yang kau pelajari) dari orang yang tidak engkau ketahui catatan (riwayat) pendidikannya (sanad ilmu) ”

Lalu jika kita telah belajar agama dari buku² terjemahan, sosmed, orang yg gk jelas, dan gogling internet sesuai tendensi Akal sendiri.. nafsu pribadi...

siapakah yg akan mengingatkan?
Read More

Do'a Untuk Bangsa Indonesia

1 comment


Inna lillahi wa inna ilaihi raji”un.
Terkait dengan insiden di Sarinah, Jakarta Pusat.. Saya turut prihatin dan sangat sedih juga ada sedikit kekhawatiran. Kita doakan semoga para korban meninggal diberikan kemuliaan di sisi-Nya, keluarga yang ditinggalkannya diberikan keiklasan dan kesabaran. Semoga pemerintah segera bisa mengatasi masalah ini dengan sebaik-baiknya. Dan mari, kita seluruh bangsa dan warga negara Indonesia mendoakan yang terbaik untuk negeri kita tercinta ini.

Mengutip doa Syekh Al-Qaradhawi yang saya ambil dari postingan Syekh Yusuf Al-Amien terkait insiden ini:

اللهم احفظ تركيا و إندونيسيا المسلمتان من شر الأشرار، وكيد الفجار، ورد سهام المتآمرين عليهما إلى نحورهم، واشغلهم بأنفسهم، وقنا شرهم بما شئت وكيف شئت

"Ya Allah, jagalah Turki dan Indonesia, yang keduanya adalah Negeri Muslim, dari kejahatan dan tipu daya orang-orang jahat. Kembalikan makar orang-orang menginginkan keburukan bagi keduanya kepada mereka sendiri. Sibukkan mereka (orang-orang jahat itu) dengan perselisihan di antara mereka sendiri. Dan selamatkanlah kami dari kejahatan mereka dengan apa yang Engkau kehendaki dan dengan cara yang Engkau kehendaki."


Aamiin... Aamiin.. Aamiin.. Ya Robbi Robbal 'Alamiin.
Read More

Ada apa dengan Kota Yogyakarta saat ini?

1 comment


Ada apa dengan Kota YOGYAKARTA saat ini? Kota ini sudah semakin kehilangan ke-khas-annya. Semakin maraknya pembangunan hotel serta pusat-pusat perbelanjaan menyebabkan Kota Jogja semakin padat dan ruwet. Pembangunan hotel demi hotel serta banyaknya pusat perbelanjaan modern (mall dan sejenisnya) tidak banyak memberikan keuntungan bagi warga. Namun sebaliknya, justru lebih banyak menimbulkan dampak negatif yang tidak memberikan keuntungan bagi warga Kota Yogyakarta. Lihat saja, saat ini justru warga sangat kesulitan untuk menemukan RTH (Ruang Terbuka Hijau) untuk tempat untuk berinteraksi dan bersosialisasi, atau katakanlah untuk sekedar melepaskan penat dari setiap rutinitas kerja ataupun sekolah/kuliah. Bahkan ada wilayah di Kota Jogja yang kesulitan mendapatkan air bersih di musim kemarau karena begitu banyaknya pembangunan hotel di wilayah tersebut.

Kemudian lihat pula kondisi lalu lintas yang semakin padat dan semrawut, tidak hanya ketika musim libur tiba atau pada jam-jam tertentu saja. Bahkan hampir setiap hari terjadi kepadatan lalu lintas di jalanan Kota Jogja ini. Lihat saja di salah satu ruas jalan dimana ada Mall A*plaz di sana, juga di ruas jalan di depan L**po Mall Jogja. Hampir setiap saat macet dan padat. Belum lagi ada H***ono Mall yang katanya adalah Mall terbesar se DIY-Jateng yang sangat pula berpotensi menimbulkan kemacetan di kawasan Jalan Lingkar Utara tersebut. Dan saat ini sudah menunggu pula "lahirnya" mall-mall baru, condotel, serta apartemen-apartemen baru yang saya lihat semakin menjamur, bak cendawa di musim hujan ini. Teman-teman pasti sudah melihat, bahkan di tengah-tengah Kota Jogja, di sebelah pusat pemerintahan Kota Jogja tengah pula dibangun sebuah bangunan megah yang entah akan jadi apa itu nanti, bisa hotel, bisa apartemen, bisa pula Mall, entahlah. Tapi yang pasti akan pula menimbulkan dampak yang sama.

Banyak pemukiman warga yang tergusur karena tanah digunakan untuk pembangunan beragam hotel dan pusat perbelanjaan ini. Bahkan salah seorang rekan mengajar saya, mengatakan ada satu wilayah di Kota Yogyakarta sebanyak satu RW "hilang" tergusur oleh pembangunan sebuah hotel. Akibatnya? Entahlah, tapi salah satu analisa beliau yang kebetulan juga sebagai guru konseling, dampak sosial yang ditimbulkan juga tidak main-main, banyak di antara mereka yang tersisih dari tempat tinggalnya ke daerah-daerah pinggiran dan ahirnya menjadi pekerja "serabutan" yang ujung-ujungnya melakukan tindak kriminal.

Tentu saja jika diadakan kajian secara menyeluruh, banyak sekali dampak negatif dari semakin banyaknya hotel, condotel, apartemen, pusat perbelanjaan modern, dan entah apalagi itu istilah dan penamaannya. Mulai dari dampak lingkungan, dampak sosial, dampak ekonomi, dan masih banyak lagi. Jujur saja, berapa banyak masyarakat asli Kota Jogja yang turut menikmati hotel dan "bangunan-bangunan mewah" itu? Paling-paling yang menikmati adalah mereka-mereka kaum borjuis yang datang dari luar Kota Jogja. Saya tidak mengatakan sepenuhnya buruk terhadap adanya pembangunan hotel dan sebagainya itu di kota Jogja ini. Akan tetapi yang saya kritisi adalah "seakan-akan" pembangunan itu dilakukan secara "brutal" tanpa memperhatikan aspek perencanaan dan tata kota yang ada. Oke, katakanlah jika itu memang sudah dilakukan sesuai dengan tahapan-tahapan yang ada di sistem birokrasi dan perundangan yang berlakuk di kota Jogja ini. Akan tetapi, aspek histori, kebudayaan, serta kondisi sosial masyarakat Jogja harus pula diperhatikan. Jangan sampai apa yang dikatakan (dulu) Kota Jogja berhati nyaman, berbudaya, berkesenian, humanis, ramah, kota pendidikan, pusat kebudayaan Jawa, miniatur nusantara, the city of tolerance, dan sebagainya hanya akan tinggal cerita, tertutup oleh bangunan dan hutan beton yang ahirnya merubah Jogja menjadi kota metropolis tak ubahnya seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Ups... salah. Bahkan Jakarta, Bandung, Surabaya pun saat ini berlomba-lomba membuat taman-taman serta ruang terbuka hijau untuk masyarakatnya. Lha ini Jogja kok malah membangun hutan beton dan pohon baja yang bertebaran di mana-mana. Duuh...

Apakah masyarakat diam saja dengan hal ini? O.. tidak. Sudah banyak masyarakat yang memberikan sindiran, kritikan dan sebagainya dari masyarakat Jogja (ataupun masyarakat yang sangat perhatian dengan Jogja). Kita masih ingat beberapa waktu yang lalu Bapak Sumbo Tinarbuko yang menulis sebuah artikel Opini di SKH Kedaulatan Rakyat yang berjudul : "YOGjakarta, Metropolitan Yogyakarta". Ini adalah salah satu dari sekian kritik masyarakat sebagai bentuk kecintaan mereka pada kota Jogja ini. Akan tetapi semua itu seakan tetap saja tidak berpengaruh kepada kebijakan pemerintah kota dalam hal ini. Lantas, bisa kita bayangkan, apa jadinya Kota Jogja ini dalam beberapa tahun ke depan? Masihkah Kota Jogja ini menjadi sebuah kota yang (benar-benar) berhati nyaman? Masihkan Jogja menjadi Kota yang istimewa yang penuh dengan budaya, seni, keramahan, humanis... atau justru menjadi kota metropilis nan hedonis, egois, dan materealistis...?

Kemudian, jika dikatakan pembangunan hotel dan pusat perbelanjaan modern yang besar-besar itu demi mendongkrak kemajuan sektor pariwisata di DIY, apakah benar wisatawan lebih tertarik dengan pemandangan-pemandangan bangunan-bangunan tinggi di jalanan yang padat dan macet? Bukan saya tidak setuju ataupun apatis dengan kemajuan dan modernisasi, bukan saya menentang sepenuhnya adanya hotel dan berbagai pusat perbelanjaan modern. Hanya saja saat ini terasa sedemikian membabi-buta pembangunan-pembangunan tersebut di Kota Yogyakarta. Saya benar-benar khawatir jika nantinya (bahkan saat ini sudah mulai terasa) suasana nyaman, humanis, berbudaya, dan berhati nyamannya kota ini hilang, tergerus kapitalisme dan apa yang dikatakan "modernisasi" hingga ahirnya mengubah Kota Yogyakarta menjadi "Yok.. Jakarta"

Kami mohon, kembalikan Kota Yogyakarta yang istimewa dan Berhati Nyaman.

Coba bersama kita kembali (mengenang) kenyamanan Kota Yogyakarta....




** Sisipan lirik lagu Kla Project : Yogyakarta

Pulang ke kotamu
Ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgi
Saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama
Suasana Jogja

Di persimpangan langkahku terhenti
Ramai kaki lima
Menjajakan sajian khas berselera
Orang duduk bersila
Musisi jalanan mulai beraksi
Seiring laraku kehilanganmu
Merintih sendiri
Ditelan deru kotamu ...

Walau kini kau t'lah tiada tak kembali
Namun kotamu hadirkan senyummu abadi
Ijinkanlah aku untuk s'lalu pulang lagi
Bila hati mulai sepi tanpa terobati
Read More

Meneladani KH. Abdurrahman Wahid ( Gus Dur ) dalam Mensikapi Perayaan Natal

Leave a Comment

Luar biasa... Saya kembali teringat ucapan beliau yang menyatakan "Peran agama yang sesungguhnya adalah membuat orang sadar akan fakta bahwa dirinya merupakan bagian dari umat manusia dan alam semesta." Lalu ada lagi pernyataan beliau yang sangat luar biasa menurut saya, "Agama itu mengajarkan pesan-pesan damai, dan ekstrimis memutar balikkannya.". Juga satu lagi yang sangat luar biasa. Pesan beliau yang sangat populer di masyarakat, yaitu sebuah kalimat pesan yang tersurat di dalam sebuah lagu "Syiir tanpo Waton" yang menurut saya adalah salah satu karya terbesar beliau, "Akeh kang apal quran hadise, seneng ngafirke marang liyane, kafire dewe dak digatekke, yen isih kotor ati akale." (Banyak orang yang hafal Al-Qur'an dan Al-Hadist, akan tetapi ujung-ujungnya malah menyalahkan dan mengkafirkan orang lain dn merasa paling benar, padahal kesalahan dan "kekafiran" diri mereka tidak mereka perhatikan, itu karena masih kotornya hati dan akal mereka.).

Dan sudah barang tentu, hal-hal seperti itu (menyalahkan, memgkafirkan, dan merasa paling benar) ujung-ujungnya akan menjadikan pertentangan dan perpecahan di masyarakat. Bukan saja antar umat beragama, bahkan di dalam internal agama pun rawan pecah dan konflik.

Maka sebuah pemikiran luar biasa ketika beliau, Gus Dur, mengungkapkan peikirannya mengenai perayaan natal dan bagaimana sikap kita dalam mensikapi perayaan Natal ini. Sebagai mana kita tahu, umat Islam terutama, ahir-ahir ini dibuat gerah oleh sekelompok umat Islam pula yang mempermasalahkan pemberian ucapan selamat Natal kepada saudara-saudara kita umat Nasrani. Mereka berpendapat haram hukumnya mengucapkan Natal.

Saya tidak menyalahkan pendapat yang demikian, karena ada juga ulama-ulama terdahulu kita yang melakukan hal ini (mengharamkan pemberian ucapan selamat Natal). Tentu saja dengan dalil-dalil yang shahih pula, serta yang patut kita perhatikan yaitu : konteks. Konteks ulama melarang pengucapan selamat Natal pada saat itu, seperti yang telah kita bahas kemarin di sini.

Bagi teman-teman yang memang berpendapat tidak membolehkan atau mengharamkan ucapan Natal ini, saya tidak menyalahkan. Hanya saja saya menyarankan untuk tidak menimbulkan suasana yang provokatif serta tidak menyalah-nyalahkan umat Islam yang memberikan ucapan selamat Natal kepada umat Nasrani. Karena ini juga boleh dan banyak juga ulama yang melakukannya.

Mari kita menjadi umat yang lebih bijak dan santun. Sumonggo... Barangkali apa yang disampaikan Gus Dur (KH. Abdurrahman Wahid ) ini bisa membuka hati dan pemikiran kita, untuk lebih bijak dan dewasa dalam beragama dan mensikapi keberagaman.

***

Gus Dur pernah menulis artikel di Koran Suara Pembaruan pada 20 Desember 2003 berjudul: Harlah, Natal dan Maulid. Menurut Gus Dur , kata Natal yang menurut arti bahasa sama dengan kata harlah (hari kelahiran), hanya dipakai untuk Nabi Isa al-Masih belaka. Jadi ia mempunyai arti khusus, lain dari yang digunakan secara umum -seperti dalam bidang kedokteran ada istilah perawatan pre-natal yang berarti “perawatan sebelum kelahiran”.

Dengan demikian, maksud istilah ‘Natal’ adalah saat Isa Al-Masih dilahirkan ke dunia oleh ‘perawan suci’ Maryam. Karena itulah ia memiliki arti tersendiri, yaitu saat kelahiran anak manusia bernama Yesus Kristus untuk menebus dosa manusia.

Sedangkan Maulid, Gus Dur menjelaskan, adalah saat kelahiran Nabi Muhammad Saw. Pertama kali dirayakan kaum Muslimin atas perintah Sultan Shalahuddin al-Ayyubi atau dalam dunia barat dikenal sebagai Saladin, dari Dinasti Mamalik yang berkebangsaan Kurdi. Tujuannya untuk mengobarkan semangat kaum Muslimin, agar menang dalam perang Salib (Crusade).

Dia memerintahkan membuat peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad, enam abad setelah Rasulullah wafat. Peristiwa Maulid itu hingga kini masih dirayakan dalam berbagai bentuk, walaupun Dinasti Sa’ud melarangnya di Saudi Arabia. Karya-karya tertulis berbahasa Arab banyak ditulis dalam puisi dan prosa untuk menyambut kelahiran Nabi Muhammad itu.

Dengan demikian, Gus Dur melanjutkan, dua kata (Natal dan Maulid) mempunyai makna khusus, dan tidak bisa disamakan. Dalam bahasa teori Hukum Islam (fiqh) kata Maulid dan Natal adalah “kata yang lebih sempit maksudnya, dari apa yang diucapkan” (yuqlaqu al’am wa yuradu bihi al-khash). Penyebabnya adalah asal-usul istilah tersebut dalam sejarah perkembangan manusia yang beragam. Artinya jelas, Natal dipakai orang-orang Kristiani, sedangkan Maulid dipakai orang-orang Islam.

Menurut Gus Dur , Natal dalam kitab suci Al-Qur'an disebut sebagai “yauma wulida (hari kelahiran, yang secara historis oleh para ahli tafsir dijelaskan sebagai hari kelahiran Nabi Isa, seperti terkutip: “kedamaian atas orang yang dilahirkan (hari ini)” (salamun yauma wulid) yang dapat dipakaikan pada beliau atau kepada Nabi Daud. Sebaliknya, firman Allah dalam surat al-Maryam: “Kedamaian atas diriku pada hari kelahiranku” (al-salamu ‘alaiyya yauma wulidtu), jelas-jelas menunjuk kepada ucapan Nabi Isa.

Bahwa kemudian Nabi Isa ‘dijadikan’ Anak Tuhan oleh umat Kristiani, adalah masalah lain lagi. Artinya, secara tidak langsung Natal memang diakui oleh kitab suci al-Qur’an, juga sebagai kata penunjuk hari kelahiran beliau, yang harus dihormati oleh umat Islam juga. Bahwa, hari kelahiran itu memang harus dirayakan dalam bentuk berbeda, atau dalam bentuk yang sama tetapi dengan maksud berbeda, adalah hal yang tidak perlu dipersoalkan.

“Jika penulis ( Gus Dur ) merayakan Natal adalah penghormatan untuk beliau (Isa) dalam pengertian yang penulis yakini, sebagai Nabi Allah SWT.”

Dengan demikian, Gus Dur melanjutkan, “Menjadi kemerdekaan bagi kaum Muslimin untuk turut menghormati hari kelahiran Nabi Isa, yang sekarang disebut hari Natal. Mereka bebas merayakannya atau tidak, karena itu sesuatu yang dibolehkan oleh agama. Penulis ( Gus Dur ) menghormatinya, kalau perlu dengan turut bersama kaum Kristiani merayakannya bersama-sama.”

Dalam litelatur fiqih, Gus Dur mengimbuhkan, jika seorang muslim duduk bersama-sama dengan orang lain yang sedang melaksanakan peribadatan mereka, seorang Muslim diperkenankan turut serta duduk dengan mereka asalkan ia tidak turut dalam ritual kebaktian. Namun hal ini masih merupakan ganjalan bagi kaum muslimin pada umumnya, karena kekhawatiran mereka akan dianggap turut berkebaktian yang sama.

“Karena itulah, kaum Muslimin biasanya menunggu di sebuah ruangan, sedangkan ritual kebaktian dilaksanakan di ruang lain. Jika telah selesai, baru kaum Muslimin duduk bercampur dengan mereka untuk menghormati kelahiran Isa al-Masih.”

Sumber: Gemasaba.Org
Read More

Rais Syuriah PBNU KH Ahmad Ishomuddin : Mengucapkan Natal Itu Boleh...

Leave a Comment

Hukum mengucapkan selamat hari Natal bagi setiap muslim tidak bisa diseragamkan karena hukum suatu perbuatan bisa berbeda antara satu orang muslim dari orang muslim lainnya lantaran perbedaan keadaannya dan situasinya. Artinya, tidak mutlak haram. Menjadi berhukum boleh apabila diniatkan untuk menunjukkan keutamaan ajaran Islam dari sisi akhlak.

“Dan tidak diiringi keyakinan yang bertentangan dengan aqidah Islamiyah, sedangkan ucapan tersebut ditujukan kepada orang yang memiliki kedekatan seperti saudara atau rekan bisnis yang juga menghormati umat Islam. Dalam situasi sebaliknya hukum mengucapkannya bisa berhukum haram,” kata Rais Syuriah PBNU KH Ahmad Ishomuddin kepada NU Online melalui surat elektronik, Sabtu (20/12).

Kiai asal Lampung ini berpandangan, mengucapkan selamat hari Natal bagi seorang muslim adalah persoalan ijtihadiyyah, karena tidak terdapat teks al-Qur'an maupun al-Hadits yang secara tegas melarangnya. Oleh karena itu, wajar jika kemudian masalah ini setiap masa menjadi objek perbedaan pendapat.

Pro-Kontra Ulama

Ia memaparkan, pada suatu masa ketika saling berperang antara sebagian umat Islam dan kaum Nasrani maka ulama menyepakati keharaman mengucapkan selamat hari Natal, seperti pada masa Ibnu Taimiyyah dan muridnya, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah. Sedangkan pada masa-masa damai di mana umat Islam dan non muslim hidup berdampingan saling menghormati maka wajar juga jika banyak fatwa yang menyatakan boleh sekadar mengucapkan selamat hari Natal.

Perbedaan pendapat hasil ijtihad di kalangan para ulama dalam persoalan tersebut tidak saling menggugurkan ijtihad ulama lainnya. Oleh karena itu, seorang muslim wajib mengedepankan akhlak yang mulia dengan menghormati pendapat ulama yang berbeda dari pendapatnya.

“Tidak perlu melontarkan pernyataan yang tidak santun kepada ulama lain saat tidak menyetujuinya karena merasa pendapatnya saja yang benar,” tutur Kiai Ishom di akun facebooknya, Selasa (16/12).

Sebagian ulama terdahulu seperti Ibnu Taimiyyah dan Ibnu Qayyim al-Jauziyyah melarang atau mengharamkan ucapan selamat hari Natal. Pendapat tersebut antara lain diikuti oleh tokoh-tokoh Wahhabi seperti al-Syaikh Abdul Aziz bin Baz, al-Syaikh Utsaimin, al-Syaikh Ibrahim bin Muhammad al-Haqil dan lain-lain yang masing-masing memfatwakan keharamannya.

Mereka yang mengharamkannya, demikian Kiai Ishom, beralasan karena dengan mengucapkan selamat hari Natal berarti turut mensyi'arkan agama mereka, padahal Allah tidak meridlai para hamba-Nya yang kafir, sedangkan mengucapkan selamat hari Natal berarti tasyabbuh (menyerupai) orang-orang Nasrani yang hukumnya juga haram.

Sebaliknya sangat banyak ulama yang menyatakan hukum al-ibahah (kebolehan) mengucapkan selamat hari Natal dengan alasan antara lain karena tidak ada satupun dalil yang melarangnya dan sekedar mengucapkan selamat hari Natal itu bukan berarti mengakui kebenaran aqidah agama Nasrani yang berkonsekuensi membuat seorang muslim secara otamatis murtad (keluar dari agama Islam).

“Sebagaimana mereka yang beragama Nasrani juga tidak otomatis menjadi muslim saat sebagian mereka mengucapkan selamat berlebaran kepada umat Islam,” terangnya sembari menjelaskan bahwa mengucapkan selamat hari Natal kepada umat Nasrani itu termasuk dalam sikap saling berbuat kebaikan dalam pergaulan hidup bersama secara damai.

Menurutnya, seorang muslim berkewajiban untuk bersikap lebih santun dibandingkan dengan siapapun dari nonmuslim, karena yang demikian itu merupakan salah satu tujuan diutusnya Nabi Muhammad SAW, yakni untuk menyempurnakan akhlak. Allah juga telah memerintahkan kepada umat Islam agar mempergauli mereka dengan sebaik-baiknya

Kiai Ishom lalu mengutip penggalan surat al-Mumtahanah ayat 8 yang artinya, "Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang yang tiada memerangi kamu karena agama dan tidak pula mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil."

Yang terpenting harus dijaga bagi orang yang mengucapkan selamat hari Natal adalah perlunya berniat untuk menampakkan citra terbaik dari ajaran Islam kepada nonmuslim seperti kaum Nasrani dan tidak ikut serta dalam rangkaian kegiatan pada hari Natal yang bertentangan dengan aqidah islamiyyah.

“Saya mengimbau agar umat Islam maupun umat Nasrani dapat hidup berdampingan secara damai, saling hormat-menghormati sesuai batas ajaran agama masing-masing dan dalam konteks kehidupan berbangsa wajib menjaga persatuan dan menghindarkan segala sebab yang menimbulkan perpepecahan."


Kiai Ishom juga menyebut sejumlah nama ulama yang memperkenankan ucapan selamat hari Natal bagi seorang muslim, antara lain,
  1. al-Syaikh Muhammad Rasyid Ridla, 
  2. al-Syaikh Yusuf al-Qaradhawi, 
  3. Prof. Dr. Abdussattar Fathullah Sa'id, 
  4. al-Syaikh Musthafa al-Zarqa', 
  5. Prof. Dr. Muhammad al-Sayyid Dusuqi, 
  6. al-Syaikh al-Syurbashi, 
  7. al-Syaikh Abdullah bin Bayyah, 
  8. al-Syaikh Farid Muhammad Washil, 
  9. al-Syaikh Ali Jum'ah, 
  10. dan lainnya.
“Bagi yang ingin meluaskan wawasan seputar masalah ini hendaknya berkenan membaca dengan cermat fatwa yang dikeluarkan baik oleh ulama yang mengharamkan maupun yang memperkenankan ucapan selamat hari Natal kepada kaum Nasrani,” pungkasnya.

Sumber : NU.OR.ID

***

Inilah yang perlu kita pahami bersama. Dalam hal keutamaan akhlak harus kita utamakan. Selama pengucapan selamat itu untuk tujuan kebaikan bermuamalah, serta tiada sedikitpun menggoyahkan aqidah kita, boleh. Apalagi ahir-ahir ini kita umat Islam dicitrakan sebagai umat yang keras, radikal, intoleran, dan (maaf) teroris. Tentu saja ini sangat memprihatinkan. Kalaupun ada di antara teman-teman yang berpendapat bahwa mengucapkan selaman natal kepada umat Nasrani itu haram, kiranya tidak lantas mencela mereka yang mengucapkan selamat natal kepada saudara-saudara kita umat Nasrani, apalagi jika langsung men-cap sebagai JIL, atau bahkan yang lebih parah jika sampai mengkafirkan. Mari kita lebih bijak dan lebih dewasa dalam beragama. :-)
Read More

Kita Ngaji Sejenak Yuuuukk..... ^_^

Leave a Comment


Masih saja ada segelintir orang yg mempertanyakan ketiadaan dalil atau praktek maulid Nabi Muhammad SAW oleh Nabi Muhammad SAW sendiri. Mereka beranggapan asal dari ibadah itu haram kecuali ada dalilnya. Perlu saya kupas sedikit bahwa ibadah mahdhah memang harus ada dalilnya tapi tidak demikian halnya dengan ibadah ghair mahdhah. Kita ngaji sejenak yuk ^_^

Ibadah Mahdhah, artinya murni hanya hubungan antara hamba dengan Allah secara langsung. Ibadah bentuk ini memiliki 3 prinsip:
  1. Keberadaannya harus berdasarkan adanya dalil perintah, baik dari al-Quran maupun al-Sunnah, jadi merupakan otoritas wahyu, tidak boleh ditetapkan oleh akal atau logika keberadaannya.
  2. Tatacaranya harus berpola kepada contoh Rasulullah Muhammad SAW. Atas dasar ini, maka ditetapkan dengan syarat dan rukun yang ketat.
  3. Bersifat supra rasional (di atas jangkauan akal). Artinya ibadah bentuk ini bukan ukuran logika, karena bukan wilayah akal, melainkan wilayah wahyu, akal hanya berfungsi memahami rahasia di baliknya yang disebut hikmah tasyri’.
Contohnya shalat 5 waktu itu ibadah madhah. Kita tidak boleh mengubah gerakan atau menambah rakaatnya. Haji, sholat dan puasa juga demikian. Modifikasi atau tambahan terhadap ibadah madhah ini yang dianggap bid'ah. Sholat subuh jadi 4 rakaat itu bid'ah.

Selanjutnya adalah....
Selain ibadah madhah di atas ada yang disebut Ibadah Ghair Mahdhah yaitu ibadah yang di samping sebagai hubungan hamba dengan Allah juga merupakan hubungan atau interaksi antara hamba dengan makhluk lainnya.

Termasuk ke dalam kategori ini setiap pekerjaan yang hukum asalnya Mubah (boleh) namun kemudian bisa bernilai ibadah bergantung pada tujuan dari pelaksanaan pekerjaan itu sendiri. Untuk jenis ini berlaku baginya kaidah:

“Asal dari segala sesuatu itu Mubah, sampai ada dalil yang menunjukkan atas keharamannya.”

Prinsip-prinsip dalam ibadah ghair mahdhah ini ada 3:

  1. Keberadaannya didasarkan atas tidak adanya dalil yang melarang. Selama Allah dan Rasul-Nya tidak melarang maka ibadah bentuk ini boleh diselenggarakan.
  2. Tata-laksananya tidak perlu berpola kepada contoh Rasul, karenanya dalam ibadah bentuk ini tidak dikenal istilah “bid’ah”, atau jika ada yang menyebutnya, segala hal yang tidak dikerjakan Rasul bid’ah, maka bid’ahnya disebut bid’ah hasanah, sedangkan dalam ibadah mahdhah disebut bid’ah dhalalah.
  3. Bersifat rasional, ibadah bentuk ini baik-buruknya, atau untung-ruginya, manfaat atau madharatnya, dapat ditentukan oleh akal atau logika. Sehingga jika menurut akal sehat itu amalan yang buruk, merugikan, dan madharat, maka tidak boleh dikerjakan.
Rumusan Ibadah Ghair Mahdhah adalah perbuatan baik dan diniatkan karena Allah. Contohnya: bekerja mencari nafkah, menuntut ilmu, memberi hadiah, membahagiakan tamu dan seterusnya itu termasuk ibadah ghair mahdhah yg tidak perlu mengikuti syarat dan rukun yang ketat. Fleksibilitas ibadah dalam Islam ada di sini. Modifikasi dan inovasi dibolehkan di wilayah ini. Mengkodifikasi Al-Qur'an di jaman Khalifah Umar dan Utsman masuk wilayah ini meski tidak ada dalil dan contohnya di masa Nabi.

Nah, perayaan maulid Nabi itu masuk wilayah ibadah ghair mahdhah. Tidak perlu dalil dan contoh dari Nabi. Paham? ^_^

Kita bayangkan saja, semisal Presiden kita Bapak Ir. H. Joko Widodo misalnya meminta rakyatnya untuk merayakan hari lahirnya maka kita akan anggap beliau pemimpin yang sombong dan mementingkan kebesaran dirinya saja.

Nah, karena keagungan dan kemuliaan akhlak Nabi Muhammad inilah yang tidak menjadikan beliau menyuruh para sahabatnya untuk merayakan hari kelahirannya. Selain ini masuk wilayah ghair mahdhah seperti yang saya sebutkan di atas tadi, Nabi bukan pemimpin yang arogan sehingga tidak mungkin ada perintah beliau soal maulid tapi juga tidak ada larangannya. Kita saja sebagai umat beliau Nabi Muhammad SAW yang harus tahu diri untuk menghormati kehadiran beliau Nabi Muhammad SAW di dunia ini.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Read More

Cinta Yang Dalam Tidak Butuh Dalil - Memaknai Kelahiran Kanjeng Nabi Muhammad صلی اللہ علیہ وسلم

Leave a Comment


Untuk menghormati dirimu kamu tak butuh dalil.
Untuk merayakan hari kelahiranmu kamu tak tanya dalil.
Giliran untuk menghormati dan merayakan hari kelahiran Pemimpin agungmu Rasulullah SAW, kamu dengan gaya orang alim menanyakan hadis sahihnya.

** KH. Ahmad Mustofa Bisri



Kelahiran

Kalau kelahiran seorang anak, baik anak sendiri atau anak orang lain, telah membuat kita bahagia, maka tidak mungkin kita tidak turut berbahagia ketika Bunda Aminah melahirkan Ahmad al-Musthafa.

Ketika perayaan hari kelahiran kolega dan handai taulan kita rayakan dengan berbagai acara sebagai tanda suka cita, maka tidak mungkin kita tidak turut merayakan hari kelahiran Muhammad yang Allah dan Malaikat pun bershalawat untuknya.

Ketika kita rayakan hari milad kita sendiri, tanpa bertanya mana dalilnya, tidak mungkin kita tidak merayakan maulid Nabi karena sibuk bertanya mana dalilnya.

Ketika kita merayakan hari kelahiran raja dan ratu serta pembesar lainnya, bahkan merayakan dengan suka cita hari kemerdekaan bangsa kita, hari perkawinan kita, hari di saat kita bersyukur mendapat rejeki berupa kelulusan sekolah, atau keberhasilan lainnya, atau kita rayakan momen penting untuk mereka yang berjasa seperti hari ibu, hari guru, hari pahlawan, maka tidak mungkin kita masih meragukan untuk sejenak berbahagia merayakan hari kelahiran Sang Nabi -- yang jauh lebih berjasa, dan lebih pantas kita renungi makna kehadirannya.

Dan kita berdiri menyanyikan lagu kebangsaan, atau beranjak bangun dari kursi ketika tamu kita datang, dan berdiri dengan sikap hormat terhadap bendera merah-putih atau bertemu pejabat, maka masih herankah kita ketika saat bacaan maulid kita berdiri seolah menyambut kehadiran Sang Rasul?

Lihatlah generasi muda sekarang yang begitu memuja para artis yang datang ke suatu acara, mereka berdiri sejak lama, gemetar dan dag-dig-dug hendak melihat artis pujaannya, banyak yang membawa bunga untuk diberikan atau sekedar kertas untuk ditandatangani, syukur-syukur bisa selfie bareng artis pujaan -- mereka berteriak gembira bahkan menangis haru saat artis yang ditunggu tiba. Bagaimana kiranya kalau kita menunggu Sang Nabi hadir dalam perayaan maulid -- bagaimana perasaan kita? Tentu melebihi dag-dig-dug, keharuan dan kegembiraan bertemu artis, bukan? Lantas apa yang aneh dengan maulid?

Kita hanya perlu sejenak membuka hati kita untuk memahaminya; tidak perlu teori canggih atau argumen panjang-lebar. Ini soal hati. Ini soal penghormatan. Ini soal kebahagiaan. Ini soal cinta. Ya, ini soal hati yang terbuka untuk sebuah cinta kepada Sang Nabi. Begitu keraskah hati kita untuk bisa merasakan getar Muhammad dalam detak jantung kita?

Baluri kami dengan cintamu wahai Rasul
Agar sanggup kami tebarkan cintamu pada semesta yang penuh tipu muslihat ini
Genggam tangan kami wahai Rasul
Agar sanggup kami damaikan dunia yang tengah membara akibat merasa benar sendiri
Peluk kami dengan cahayamu wahai Rasul
Agar sanggup kami terangi kegelapan hati yang berlapis kecongkakan ini

Shalawat dan salam selalu tercurah untukmu
Marhaban
Marhaban
Marhaban
Read More

Yaa Sayyidi Yaa Rasulallah... Karena Kami Mencintai Ya Rasul, Kami Merindukanmu Kanjeng Nabiku

Leave a Comment
Sejujurnya saya sangat kecewa, sekaligus sakit hati ketika ada beberapa orang yang ahir-ahir ini mengatakan bid'ah, tidak benar, tidak ada tuntunannya, sesat kepada orang-orang yang memanggil Rosulullah dengan gelar "Sayyidina". Bahkan saya sendiri pun pernah dikatakan demikian oleh salang seorang sahabat saya. Ini yang membuat saya rihatin sekaligus sedih.

Ya Allah.. begitu mudah sesama muslim saling mem-bid'ah-kan, saling men-sesat-kan, bahkan yang paling parah saling meng-kafir-kan antar sesama muslim hanya karena berbeda pandangan, hanya karena berbeda pemikiran, hanya karena bukan satu ormas, bukan satu wajihah, tidak pada harokah yang sama, karena berbeda fikroh. Seakan yang benar adalah golongan "mereka" sendiri. Seakan syurga hanya untuk kelompo "mereka" sendiri. Dan inilah yang menjadikan saya sangat prihatin. Sangat sangat prihatin.

Dan memang ahir-ahir ini ada baberapa (dan semakin banyak) kelompok atau golongan yang merasa benar dan selalu manyalahkan golongan lain yang bukan masuk ke dalam golongan mereka, seperti yang saya sampaikan tadi. Pun demikian halnya "hanya" karena masalah pemanggilan Rasulullah dengan sebutan "Sayyidina" mereka mengatakan bid;ah, sesat, kepada kelompok lain yang sama-sama Islam, termasuk saya yang pernah dikatakan demikian.

Tak tahukah wahai saudaraku yang ku cintai, bahwa kami memanggil Kanjeng Nabi Muhammad Rasulullah dengan sebutan "Sayyidina" adalah karena kecintaan kami kepada beliau, karena kerinduan kami kepada beliau, karena dalamnya rasa penghormatan dan ta'dhim kami kepada beliau. Jika ada dari teman-teman yang mangatakan punya dalil yang mengatakan bahwa Rasulullah tidak ingin dipanggil dengan sebutan "Sayyidina", ini kami sampaikan.. Semoga semakin membuka pemahama kita.

Bismillah Ar-rahmaan Ar-rahiim.

Sebagian orang membid’ahkan panggilan Sayyidinaa atau Maulana di depan nama Muhammad Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam, dengan alasan bahwa Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam sendiri yang menganjurkan kepada kita tanpa mengagung-agungkan di muka nama beliau Shollallaah ‘alaih wa sallam Memang golongan ini mudah sekali membid’ahkan sesuatu amalan tanpa melihat motif makna yang dimaksud Bid’ah itu apa. Mari kita rujuk ayat-ayat Ilahi dan hadits-hadits Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam yang berkaitan dengan kata-kata sayyid.

Syeikh Muhammad Sulaiman Faraj dalam risalahnya yang berjudul panjang yaitu Dala’ilul-Mahabbah Wa Ta’dzimul-Maqam Fis-Shalati Was-Salam ‘An Sayyidil-Anam dengan tegas mengatakan: Menyebut nama Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam dengan tambahan kata Sayyidina (junjungan kita) di depannya merupakan suatu keharusan bagi setiap muslim yang mencintai beliau Shollallaah ‘alaih wa sallam. Sebab kata tersebut menunjukkan kemuliaan martabat dan ketinggian kedudukan beliau. Allah Subhanahu wa ta’aala memerintahkan ummat Islam supaya menjunjung tinggi martabat Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam, menghormati dan memuliakan beliau, bahkan melarang kita memanggil atau menyebut nama beliau dengan cara sebagaimana kita menyebut nama orang diantara sesama kita. Larangan tersebut tidak berarti lain kecuali untuk menjaga kehormatan dan kemuliaan Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam Allah Subhanahu wa ta’aala berfirman :

“Janganlah kalian memanggil Rasul (Muhammad) seperti kalian memanggil sesama orang di antara kalian”. (QS.An-Nur : 63).

Dalam tafsirnya mengenai ayat di atas ini Ash-Shawi mengatakan: Makna ayat itu ialah janganlah kalian memanggil atau menyebut nama Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam cukup dengan nama beliau saja, seperti Hai Muhammad atau cukup dengan nama julukannya saja Hai Abul Qasim. Hendaklah kalian menyebut namanya atau memanggilnya dengan penuh hormat, dengan menyebut kemuliaan dan keagungannya. Demikianlah yang dimaksud oleh ayat tersebut di atas. Jadi, tidak patut bagi kita menyebut nama beliau Shollallaah ‘alaih wa sallam tanpa menunjukkan penghormatan dan pemuliaan kita kepada beliau Shollallaah ‘alaih wa sallam, baik di kala beliau masih hidup di dunia maupun setelah beliau kembali ke haribaan Allah Subhanahu wa ta’aala yang sudah jelas ialah bahwa orang yang tidak mengindahkan ayat tersebut berarti tidak mengindahkan larangan Allah dalam Al-Qur’an. Sikap demikian bukanlah sikap orang beriman.

Menurut Ibnu Jarir rahimahullah, dalam menafsirkan ayat tersebut, Qatadah mengatakan : Dengan ayat itu (An-Nur:63) Allah memerintahkan ummat Islam supaya memuliakan dan mengagungkan Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam

Dalam kitab Al-Iklil Fi Istinbathit-Tanzil Imam Suyuthi mengatakan: Dengan turunnya ayat tersebut Allah melarang ummat Islam menyebut beliau Shollallaah ‘alaih wa sallam atau memanggil beliau hanya dengan namanya, tetapi harus menyebut atau memanggil beliau dengan Ya Rasulullah atau Ya Nabiyullah. Menurut kenyataan sebutan atau panggilan demikian itu tetap berlaku, kendati beliau telah wafat.

Dalam kitab Fathul-Bari syarh Shahihil Bukhori juga terdapat penegasan seperti tersebut di atas, dengan tambahan keterangan sebuah riwayat berasal dari Ibnu ‘Abbas ra. yang diriwayatkan oleh Ad-Dhahhak, bahwa sebelum ayat tersebut turun kaum Muslimin memanggil Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam hanya dengan Hai Muhammad, Hai Ahmad, Hai Abul-Qasim dan lain sebagainya. Dengan menurunkan ayat itu Allah Subhanahu wa ta’aala melarang mereka menyebut atau memanggil Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam dengan ucapan-ucapan tadi. Mereka kemudian menggantinya dengan kata-kata : Ya Rasulallah, dan Ya Nabiyallah.

Hampir seluruh ulama Islam dan para ahli Fiqih berbagai madzhab mempunyai pendapat yang sama mengenai soal tersebut, yaitu bahwa mereka semuanya melarang orang menggunakan sebutan atau panggilan sebagaimana yang dilakukan orang sebelum ayat tersebut di atas turun.

Di dalam Al-Qur’an banyak terdapat ayat-ayat yang mengisyaratkan makna tersebut di atas. Antara lain firman Allah Subhanahu wa ta’aala dalam surat Al-A’raf : 157 ; Al-Fath : 8-9, Al-Insyirah : 4 dan lain sebagainya. Dalam ayat-ayat ini Allah Subhanahu wa ta’aala memuji kaum muslimin yang bersikap hormat dan memuliakan Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam, bahkan menyebut mereka sebagai orang-orang yang beruntung. Juga firman Allah Subhanahu wa ta’aala mengajarkan kepada kita tata krama yang mana dalam firman-Nya tidak pernah memanggil atau menyebut Rasul-Nya dengan kalimat Hai Muhammad, tetapi memanggil beliau dengan kalimat Hai Rasul atau Hai Nabi.

Firman-firman Allah Subhanahu wa ta’aala tersebut cukup gamblang dan jelas membuktikan bahwa Allah Subhanahu wa ta’aala mengangkat dan menjunjung Rasul-Nya sedemikian tinggi, hingga layak disebut Sayyidina atau junjungan kita Muhammad Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam. Menyebut nama beliau Shollallaah ‘alaih wa sallam tanpa diawali dengan kata yang menunjukkan penghormatan, seperti Sayyidina tidak sesuai dengan pengagungan yang selayaknya kepada kedudukan dan martabat beliau.

Dalam surat Aali-‘Imran: 39 Allah Subhanahu wa ta’aala menyebut Nabi Yahya alaihissalaam dengan predikat sayyid :

“…Allah memberi kabar gembira kepadamu (Hai Zakariya) akan kelahiran seorang puteramu, Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang dari) Allah, seorang sayyid (terkemuka, panutan), (sanggup) menahan diri (dari hawa nafsu) dan Nabi dari keturunan orang-orang sholeh”.

Para penghuni neraka pun menyebut orang-orang yang menjerumuskan mereka dengan istilah saadat (jamak dari kata sayyid), yang berarti para pemimpin. Penyesalan mereka dilukiskan Allah Subhanahu wa ta’aala dalam firman-Nya :

“Dan mereka (penghuni neraka) berkata : ‘Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mentaati para pemimpin (sadatanaa) dan para pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan yang benar”. (QS. Al-Ahzab: 67).

Juga seorang suami dapat disebut dengan kata sayyid, sebagaimana yang terdapat dalam firman Allah Subhanahu wa ta’aala dalam surat Yusuf : 25 :

“Wanita itu menarik qamis (baju) Yusuf dari belakang hingga koyak, kemudian kedua-duanya memergoki sayyid (suami) wanita itu di depan pintu”. Dalam kisah ini yang dimaksud suami ialah raja Mesir.

Demikian juga kata Maula yang berarti pengasuh, penguasa, penolong dan lain sebagainya. Banyak terdapat didalam Al-Qur’anul-Karim kata-kata ini, antara lain dalam surat Ad-Dukhan: 41 Allah berfirman :

“…Hari (kiamat) di mana seorang maula (pelindung) tidak dapat memberi manfaat apa pun kepada maula (yang dilindunginya) dan mereka tidak akan tertolong”.

Juga dalam firman Allah Subhanahu wa ta’aala dalam Al-Maidah : 55 disebutkan juga kalimat Maula untuk Allah Subhanahu wa ta’aala, Rasul dan orang yang beriman.

Jadi kalau kata sayyid itu dapat digunakan untuk menyebut Nabi Yahya putera Zakariya, dapat digunakan untuk menyebut raja Mesir, bahkan dapat juga digunakan untuk menyebut pemimpin yang semuanya itu menunjuk kan kedudukan seseorang alasan apa yang dapat digunakan untuk menolak sebutan sayyid bagi junjungan kita Nabi Muhammad Shollallaah ‘alaih wa sallam.

Demikian pula soal penggunaan kata Maula. Apakah bid’ah jika seorang menyebut nama seorang Nabi yang diimani dan dicintainya dengan awalan sayyidina atau maulana?

Mengapa orang yang menyebut nama seorang pejabat tinggi pemerintahan, kepada para presiden, para raja atau menteri, atau kepada diri seseorang dengan awalan ‘Yang Mulia’ atau ‘Yang Terhormat’ tidak dituduh berbuat bid’ah? Tidak salah kalau ada orang yang mengatakan, bahwa sikap menolak penggunaan kata sayyid atau maula untuk mengawali penyebutan nama Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam itu sesungguhnya dari pikiran meremehkan kedudukan dan martabat beliau Shollallaah ‘alaih wa sallam Atau sekurang-kurang hendak menyamakan kedudukan dan martabat beliau Shollallaah ‘alaih wa sallam dengan manusia awam/biasa.

Sebagaimana kita ketahui, dewasa ini masih banyak orang yang menyebut nama Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam tanpa diawali dengan kata sayyidina dan tanpa dilanjutkan dengan kalimat sholawat (Shollallaah ‘alaih wa sallam). Menyebut nama Rasulullah dengan cara demikian menunjukkan sikap tak kenal hormat pada diri orang yang bersangkutan. Cara demikian itu lazim dilakukan oleh orang-orang di luar Islam, seperti kaum orientalis barat dan lain sebagainya. Sikap kaum orientalis ini tidak boleh kita tiru.

Banyak hadits-hadits shohih yang menggunakan kata sayyid, beberapa di antaranya ialah :

“Setiap anak Adam adalah sayyid. Seorang suami adalah sayyid bagi isterinya dan seorang isteri adalah sayyidah bagi keluarganya (rumah tangga nya)”. (HR Bukhori dan Adz-Dzahabi).

Jadi kalau setiap anak Adam saja dapat disebut sayyid, apakah anak Adam yang paling tinggi martabatnya dan paling mulia kedudukannya di sisi Allah yaitu junjungan kita Nabi Muhammad Shollallaah ‘alaih wa sallam tidak boleh disebut sayyid ?

Di dalam shohih Muslim terdapat sebuah hadits, bahwasanya Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam memberitahu para sahabatnya, bahwa pada hari kiamat kelak Allah Subhanahu wa ta’aala akan menggugat hamba-hambaNya : “Bukankah engkau telah Ku-muliakan dan Ku-jadikan sayyid?” (alam ukrimuka wa usawwiduka?)

Makna hadits itu ialah, bahwa Allah Subhanahu wa ta’aala telah memberikan kemuliaan dan kedudukan tinggi kepada setiap manusia. Kalau setiap manusia dikarunia kemuliaan dan kedudukan tinggi, apakah manusia pilihan Allah yang diutus sebagai Nabi dan Rasul tidak jauh lebih mulia dan lebih tinggi kedudukan dan martabatnya daripada manusia lainnya? Kalau manusia-manusia biasa saja dapat disebut sayyid , mengapa Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam tidak boleh disebut sayyid atau maula?

Dalil-dalil orang yang membantah dan jawabannya

– Ada sementara orang terkelabui oleh pengarang hadits palsu yang berbunyi: “Laa tusayyiduunii fis-shalah” artinya “Jangan menyebutku (Nabi Muhammad Shollallaah ‘alaih wa sallam) sayyid di dalam sholat”. Tampaknya pengarang hadits palsu yang mengatas namakan Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam untuk mempertahankan pendiriannya itu lupa atau memang tidak mengerti bahwa di dalam bahasa Arab tidak pernah terdapat kata kerja TUSAYYIDU. Tidak ada kemungkinan sama sekali Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallammengucapkan kata-kata dengan bahasa Arab gadungan seperti yang dilukiskan oleh pengarang hadits palsu tersebut. Dilihat dari segi bahasanya saja, hadits itu tampak jelas kepalsuannya. Namun untuk lebih kuat membuktikan kepalsuan hadits tersebut baiklah kami kemukakan beberapa pendapat yang dinyatakan oleh para ulama.

Dalam kitab Al-Hawi, atas pertanyaan mengenai hadits tersebut Imam Jalaluddin As-Suyuthi menjawab tegas: “Tidak pernah ada (hadits tersebut), itu bathil !”.

Imam Al-Hafidz As-Sakhawi dalam kitab Al-Maqashidul-Al-Hasanah menegaskan : “ Hadits itu tidak karuan sumbernya ! “

Imam Jalaluddin Al-Muhli, Imam As-Syamsur-Ramli, Imam Ibnu Hajar Al-Haitsami, Imam Al-Qari, para ahli Fiqih madzhab Sayfi’i dan madzhab Maliki dan lain-lainnya, semuanya mengatakan : “Hadits itu sama sekali tidak benar”.

– Selain hadits palsu di atas tersebut, masih ada hadits palsu lainnya yang semakna, yaitu yang berbunyi : “La tu’adzdzimuunii fil-masjid” artinya ; “Jangan mengagungkan aku (Nabi Muhammad Shollallaah ‘alaih wa sallam) di masjid”.

Dalam kitab Kasyful Khufa Imam Al-Hafidz Al-‘Ajluni dengan tegas mengata- kan: “Itu bathil !”. Demikian pula Imam As-Sakhawi dalam kitab Maulid-nya yang berjudul Kanzul-‘Ifah menyatakan tentang hadits ini: “Kebohongan yang diada-adakan”.

Memang masuk akal kalau ada orang yang berkata seperti itu yakni jangan mengagungkan aku di masjid kepada para hadirin didalam masjid, sebab ucapannya itu merupakan tawadhu’ (rendah hati). Akan tetapi kalau dikatakan bahwa perkataan tersebut diucapkan oleh Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam atau sebagai hadits beliau Shollallaah ‘alaih wa sallam, jelas hal itu suatu pemalsuan yang terlampau berani.

Mari kita lanjutkan tentang hadits-hadits shohih yang menggunakan kata sayyid berikut ini:

– Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim dalam Shohihnya bahwa Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam bersabda : “Aku sayyid anak Adam…” . Jelaslah bahwa kata sayyid dalam hal ini berarti pemimpin ummat, orang yang paling terhormat dan paling mulia dan paling sempurna dalam segala hal sehingga dapat menjadi panutan serta teladan bagi ummat yang dipimpinnya.

Ibnu ‘Abbas ra mengatakan, bahwa makna sayyid dalam hadits tersebut ialah orang yang paling mulia di sisi Allah. Qatadah ra. mengatakan, bahwa Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam adalah seorang sayyid yang tidak pernah dapat dikalahkan oleh amarahnya.

– Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal, Ibnu Majah dan At-Turmudzi, Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam bersabda :

“Aku adalah sayyid anak Adam pada hari kiamat”. Surmber riwayat lain yang diketengahkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Bukhori dan Imam Muslim, mengatakan bahwa Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam bersabda : “Aku sayyid semua manusia pada hari kiamat”.
Hadits tersebut diberi makna oleh Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam sendiri dengan penjelasannya: "Pada hari kiamat, Adam dan para Nabi keturunannya berada di bawah panjiku".

Sumber riwayat lain mengatakan lebih tegas lagi, yaitu bahwa Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam bersabda : “Aku sayyid dua alam”.

– Riwayat yang berasal dari Abu Nu’aim sebagaimana tercantum di dalam kitab Dala’ilun-Nubuwwah mengatakan bahwa Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam bersabda : “Aku sayyid kaum Mu’minin pada saat mereka dibangkitkan kembali (pada hari kiamat)”.

– Hadits lain yang diriwayatkan oleh Al-Khatib mengatakan, bahwa Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam bersabda: “Aku Imam kaum muslimin dan sayyid kaum yang bertaqwa”.

– Sebuah hadits yang dengan terang mengisyaratkan keharusan menyebut nama Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam diawali dengan kata sayyidina diketengahkan oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrak. Hadits yang mempunyai isnad shohih ini berasal dari Jabir bin ‘Abdullah ra. yang mengatakan sebagai berikut:

"Pada suatu hari kulihat Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam naik keatas mimbar. Setelah memanjatkan puji syukur kehadirat Allah Shollallaah ‘alaih wa sallam beliau bertanya : ‘Siapakah aku ini ?’ Kami menyahut: Rasulullah ! Beliau bertanya lagi: ‘Ya, benar, tetapi siapakah aku ini ?’. Kami menjawab : Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Abdul-Mutthalib bin Hasyim bin ‘Abdi Manaf ! Beliau kemudian menyatakan : ‘Aku sayyid anak Adam….’."

Riwayat hadits ini menjelaskan kepada kita bahwa Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam lebih suka kalau para sahabatnya menyebut nama beliau dengan kata sayyid. Dengan kata sayyid itu menunjukkan perbedaan kedudukan beliau dari kedudukan para Nabi dan Rasul terdahulu, bahkan dari semua manusia sejagat.

Semua hadits tersebut di atas menunjukkan dengan jelas, bahwa Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam adalah sayyid anak Adam, sayyid kaum muslimin, sayyid dua alam (al-‘alamain), sayyid kaum yang bertakwa. Tidak diragukan lagi bahwa menggunakan kata sayyidina untuk mengawali penyebutan nama Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam merupakan suatu yang dianjurkan bagi setiap muslim yang mencintai beliau Shollallaah ‘alaih wa sallam

– Demikian pula soal kata Maula, Imam Ahmad bin Hanbal di dalam Musnad nya, Imam Turmduzi, An-Nasa’i dan Ibnu Majah mengetengahkan sebuah hadits, bahwa Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam bersabda :

"Man kuntu maulahu fa ‘aliyyun maulahu" artinya : “Barangsiapa aku menjadi maula-nya (pemimpinnya). ‘Ali (bin Abi Thalib) adalah maula-nya…”

– Dari hadits semuanya di atas tersebut kita pun mengetahui dengan jelas bahwa Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam adalah sayyidina dan maulana (pemimpin kita). Demikian juga para ahlu-baitnya (keluarganya), semua adalah sayyidina. Al-Bukhori meriwayatkan bahwa Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam pernah berkata kepada puteri beliau, Siti Fathimah ra :

"Yaa Fathimah amaa tardhiina an takuunii sayyidata nisaail mu’minin au sayyidata nisaai hadzihil ummati" artinya : “Hai Fathimah, apakah engkau tidak puas menjadi sayyidah kaum mu’minin (kaum orang-orang yang beriman) atau sayyidah kaum wanita ummat ini ?”

– Dalam shohih Muslim hadits tersebut berbunyi: “Yaa Fathimah ammaa tardhiina an takuunii sayyidata nisaa’il mu’mininat au sayyidata nisaa’i hadzihil ummati” artinya : “Hai Fathimah, apakah engkau tidak puas menjadi sayyidah mu’mininat (kaum wanitanya orang-orang yang beriman) atau sayyidah kaum wanita ummat ini ?”

– Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad, Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam berkata kepada puterinya (Siti Fathimah ra) :

“Amaa tardhiina an takuunii sayyidata sayyidata nisaa hadzihil ummati au nisaail ‘Alamina” artinya : “…Apakah engkau tidak puas menjadi sayyidah kaum wanita ummat ini, atau sayyidah kaum wanita sedunia ?”

Demikianlah pula halnya terhadap dua orang cucu Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam Al-Hasan dan Al-Husain radhiyallahu ‘anhuma. Imam Bukhori dan At-Turmudzi meriwayatkan sebuah hadits yang berisnad shohih bahwa pada suatu hari Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam bersabda : “Al-Hasanu wal Husainu sayyida asybaabi ahlil jannati” artinya : “Al-Hasan dan Al-Husain dua orang sayyid pemuda ahli surga”.

Berdasarkan hadits-hadits diatas itu kita menyebut puteri Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam Siti Fathimah Az-Zahra dengan kata awalan sayyidatuna. Demikianlah pula terhadap dua orang cucu Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam Al-Hasan dan Al-Husain radhiyallahu ‘anhuma.

– Ketika Sa’ad bin Mu’adz radhiyallaahu ‘anhu diangkat oleh Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam sebagai penguasa kaum Yahudi Bani Quraidah (setelah mereka tunduk kepada kekuasaan kaum muslimin), Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam mengutus seorang memanggil Sa’ad supaya datang menghadap beliau. Sa’ad datang berkendaraan keledai, saat itu Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam berkata kepada orang-orang yang hadir: “Quumuu ilaa sayyidikum au ilaa khoirikum” artinya : “Berdirilah menghormati sayyid (pemimpin) kalian, atau orang terbaik diantara kalian”.

Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam menyuruh mereka berdiri bukan karena Sa’ad dalam keadaan sakit sementara beberapa fihak menafsirkan mereka disuruh berdiri untuk menolong Sa’ad turun dari keledainya, karena dalam keadaan sakit sebab jika Sa’ad dalam keadaan sakit, tentu Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam tidak menyuruh mereka semua menghormat kedatangan Sa’ad, melainkan menyuruh beberapa orang saja untuk berdiri menolong Sa’ad.

Sekalipun –misalnya– Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam melarang para sahabatnya berdiri menghormati beliau Shollallaah ‘alaih wa sallam, tetapi beliau sendiri malah memerintahkan mereka supaya berdiri menghormati Sa’ad bin Mu’adz, apakah artinya ? Itulah tatakrama Islam. Kita harus dapat memahami apa yang dikehendaki oleh Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam dengan larangan dan perintahnya mengenai soal yang sama itu. Tidak ada ayah, ibu , kakak dan guru yang secara terang-terangan minta dihormati oleh anak, adik dan murid, akan tetapi si anak, si adik dan si murid harus merasa dirinya wajib menghormati ayahnya, ibunya, kakaknya dan gurunya. Demikian juga Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam sekalipun beliau menyadari kedudukan dan martabatnya yang sedemikian tinggi disisi Allah Subhanahu wa ta’aala, beliau tidak menuntut supaya ummatnya memuliakan dan mengagung-agungkan beliau. Akan tetapi kita, ummat Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam, harus merasa wajib menghormati, memuliakan dan mengagungkan beliau Shollallaah ‘alaih wa sallam

Allah Subhanahu wa ta’aala berfirman dalam Al-Ahzab: 6 : “Bagi orang-orang yang beriman, Nabi (Muhammad Shollallaah ‘alaih wa sallam) lebih utama daripada diri mereka sendiri, dan para isterinya adalah ibu-ibu mereka”.

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu menyatakan: Beliau adalah ayah mereka’ yakni ayah semua orang beriman! Ayat suci diatas ini jelas maknanya, tidak memerlukan penjelasan apa pun juga, bahwa Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam lebih utama dari semua orang beriman dan para isteri beliau wajib dipandang sebagai ibu-ibu seluruh ummat Islam ! Apakah setelah keterangan semua diatas ini orang yang menyebut nama beliau dengan tambahan kata awalan sayyidina atau maulana pantas dituduh berbuat bid’ah? Semoga Allah Subhanahu wa ta’aala memberi hidayah kepada kita semua. Amin

– Ibnu Mas’ud radhiyallaahu ‘anhu mengatakan kepada orang-orang yang menuntut ilmu kepadanya: “Apabila kalian mengucapkan shalawat Nabi hendaklah kalian mengucapkan shalawat dengan sebaik-baiknya. Kalian tidak tahu bahwa sholawat itu akan disampaikan kepada beliau Shollallaah ‘alaih wa sallam, karena itu ucapkanlah : ‘Ya Allah, limpahkanlah shalawat-Mu, rahmat-Mu dan berkah-Mu kepada Sayyidul-Mursalin (pemimpin para Nabi dan Rasulullah) dan Imamul-Muttaqin (Panutan orang-orang bertakwa)”

– Para sahabat Nabi juga menggunakan kata sayyid untuk saling menyebut nama masing-masing, sebagai tanda saling hormat-menghormati dan harga-menghargai. Di dalam Al-Mustadrak Al-Hakim mengetengahkan sebuah hadits dengan isnad shohih, bahwa “Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu dalam menjawab ucapan salam Al-Hasan bin ‘Ali radhiyallaahu ‘anhu selalu mengatakan “Alaikassalam ya sayyidi”. Atas pertanyaan seorang sahabat ia menjawab: ‘Aku mendengar sendiri Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam menyebutnya (Al-Hasan radhiyallahu ‘anhu) sayyid’ “.

– Ibnu ‘Athaillah dalam bukunya Miftahul-Falah mengenai pembicaraannya soal sholawat Nabi mewanti-wanti pembacanya sebagai berikut: “Hendak- nya anda berhati-hati jangan sampai meninggalkan lafadz sayyidina dalam bersholawat, karena di dalam lafadz itu terdapat rahasia yang tampak jelas bagi orang yang selalu mengamalkannya”. Dan masih banyak lagi wejangan para ulama pakar cara sebaik-baiknya membaca sholawat pada Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam yang tidak tercantum di sini.

Nah, kiranya cukuplah sudah uraian di atas mengenai penggunaan kata sayyidina atau maulana untuk mengawali penyebutan nama Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam. Setelah orang mengetahui banyak hadits Nabi yang menerangkan persoalan itu yakni menggunakan kata awalan sayyid, apakah masih ada yang bersikeras tidak mau menggunakan kata sayyidina dalam menyebut nama beliau Shollallaah ‘alaih wa sallam?, dan apanya yang salah dalam hal ini ?

Apakah orang yang demikian itu hendak mengingkari martabat Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam sebagai Sayyidul-Mursalin (penghulu para Rasulullah) dan Habibu Rabbil-‘alamin (Kesayangan Allah Rabbul ‘alamin) ?

Bagaimana tercelanya orang yang berani membid’ahkan penyebutan sayyidina atau maulana di muka nama beliau Shollallaah ‘alaih wa sallam? Yang lebih aneh lagi sekarang banyak di antara golongan pengingkar ini sendiri yang memanggil nama satu sama lain diawali dengan sayyid atau minta juga agar mereka dipanggil sayyid di muka nama mereka !

Allahu a’lam bish-shawabi.. Semoga bermanfaat.
Read More

Eling-eling Siro Manungso

Leave a Comment

Lailahaillallah
Almalikul haqqul mubin
Muhammadurrosulullah
Shodiqul wa'dil amin


Ling-eling siro manungso
Temenono anggonmu ngaji
Mumpung durung den rawuhi
Malaikat juru pati

Lailahaillallah
Almalikul haqqul mubin
Muhammadurrosulullah
Shodiqul wa'dil amin


Luwih loro luwih susah
Rasane wong neng neroko
Klabang kores kolojengking
Klabang geni ulo geni
Rante geni gada geni
Cawisane wongkang duroko
Gumampang dawuh pangeran
Dasar tan manut parentah tuan

Lailahaillallah
Almalikul haqqul mubin
Muhammadurrosulullah
Shodiqul wa'dil amin


Luwih mulyo luwih mukti
Rasane wong neng suwargo
Pitung puluh widodari
Kasur babut den cawisi
Cawisane wongkang bekti
Dawuh pengeran kang moho suci
Mukmin lanang mukmin wadon
mukmin iku sedherek kula

Lailahaillallah
Almalikul haqqul mubin
Muhammadurrosulullah
Shodiqul wa'dil amin


Agami Islam Agami Kula
Kitab Qur'an panutan kula
mukmin lanang mukmin wadon
mukmin iku sedherek kula

Allahumma Sholli 'ala
Muhammad Syafi'il Anam
Wa alihi wa shohbihi
Wasallim 'ala dawaam



Read More

Bapak...

Leave a Comment

Tak butuh banyak kata untuk ungkapkan cintaku padamu, pun cintamu padaku.
Tak butuh satu hari ataupun hari-hari tertentu untuk mengenang dan mengungkapkan kasih sayangku padamu, pun kasih sayangmu padaku.
Bahkan sebenarnya aq pun tak butuh selembar foto ini (yang mana inilah satu-satunya yang ku punya untukku menjawab ketika putri kecilmu -yang kini telah tumbuh menjadi gadis yangg cantik jelita- bertanya tentangmu) untuk mengingatmu.
Karena sesungguhnya cukup dengan memejamkan mata, cukup dalam lantunan doa, aku selalu bisa merasakan kehadiranmu dan seluruh kenangan bersamamu.
Read More

(Masihkah) Jogja Berhati Nyaman?

Leave a Comment

Benar, ahirnya semakin bertanya-tanya, kenapa sekarang #Jogja tak ubahnya (hampir) seperti Jakarta? Kesan humanis, berwibawa, culture yg sangat kental, kekayaan dan aura heritage semakin terkikis oleh sampah visual, kemacetan jalan raya, gedung - mall - hotel dan bangunan2 tinggi lainnya yg semakin menjamur (seakan) tak terkendali. Kesan #metropolis semakin kuat. Jogjaku seakan kehilangan aura dan kewibawaanya. #JogjaBerhatiNyaman semoga tak hanya sekedar slogan.
Read More

Tentang Hari Santri Nasional

1 comment


Tentang hari santri, yang begitu gempita ini, barangkali pendapat lek saya Azwar Anas ini bisa menjadi perspektif lain yg sangat bagus saya kira. Bukan bermaksud sinis ataupun apatis terhadap hari santri, tp ini pandangan kritis sebagai koreksi diri atas kondisi kondisi yg terjadi pada bangsa ini, yg semakin terkotak-kotak dan berbangga diri menonjolkan identitas golongannya sendiri. Sehingga nilai2 kebangsaan, persatuan, dan kesatuan tanpa kita sadari akan semakin terkikis. Perlu diketahui, beliau Lek Azwar Anas ini adalah seorang NU tulen. Beliau adalah santri tulen sejak dalam kandungan istilahnya, karena apa? Karena beliau berasal dari keluarga santri dan orang tuanya adalah salah satu tokoh NU di Rembang.

Ini pendapat beliau, sangat inspiratif.

"Yang bikin saya kurang sepakat dengan Hari Santri adalah fungsinya itu sendiri, untuk apa alias nggo ngopo?
Dusunku kebetulan namanya Pesantren. Saya tidak begitu paham sejarahnya, mungkin saja itu kampungnya para santri. Buktinya memang banyak pondok, walau tidak besar dan punya kiyai-kiyai kesohor.
Kalau boleh saya bilang sih, pondok pesantren di sana sudah kayak home industry. Itu karena, nyaris setiap orang bisa mengajar ngaji, meskipun sebatas Qiroati. Kamu bisa belajar ngaji di mana saja bahkan di rumahmu sendiri. Jadi jangan heran, kalau ada bocah yang lebih dulu bisa baca Al-quran ketimbang abjad-abjad latin.

Kampungku tidak mengenal Hari Santri. Hari ya hari. Ada tujuh, kalau sekarang Kamis, besok Jumat, lusa Sabtu, tulat Ahad, dan tubin Senin, begitu seterusnya.
Tidak perlu kirab, tidak perlu mengucap selamat ke orang-orang, bocah-bocah setiap hari ya ngaji, setiap sore sudah harus mandi, bersarung, dan peci untuk ketemu kyai.

Jutru, saya khawatir dengan adanya Hari Santri di negeri Indonesia ini. Santri adalah golongan.Lawannya mungkin abangan. Terlalu banyak hari yang memihak sedikit golongan, sama saja mempetak-petakkan, yang kalau boleh saya bilang, membeda-bedakan. Ini bisa memicu orang untuk terlalu dan selalu bersikap primordiil. Sikap yang teramat sangat membanggakan budayanya sendiri tanpa mempertimbangkan budaya lain. Di Indonesia mental seperti itu sudah dimusnahkan sejak Majapahit.

Ini negara yang memiliki banyak budaya, saya kira orok pun tahu itu. Kalau mau bikin hari yang untuk diperingati, yang untuk diunggulkan, yang untuk diramaikan, ya yang sesuai hajat hidup semuanya.
Tanpa maksud sok tahu, biar bagaimanapun, Indonesia harus mengutamakan kepentingan bangsa bukan agama. Sebaliknya, agama tidak boleh berada di atas negara, karena negara ini berdiri bukan dengan satu agama, melainkan berbagai agama. Semoga kita tidak lupa. Lahumul fatihah!"
Read More

Kuliah, kembali kuatkan azam untuk meraih ridho Allah SWT

Leave a Comment

Bismillah.. Bismillah.. Bismillah... La Khaula wala quwwata illa billahil 'aliyyil adziim... Alhamdulillah, setiap kejadian, peristiwa, atau segala apapun yang terjadi pada kita, ketika kita mau dan mampu untuk sedikit saja membuka hati dan kesadaran kita, maka akan kita temukan hikmah dan keindahan di balik itu semua.

Dan Alhamdulillah... Allah SWT (kembali) memberikan diri ini kesempatan untuk tholabul 'ilmi.. Yang mana diri ini yakin bahwa inilah jalan Allah SWT untuk mendekatkan diri yang dhoif ini kepada-Nya yang begitu Agung dan Mulia. Ya, bahkan Allah SWT menjanjikan syurga yang mulia bagi mereka menempuh jalan dalam upaya mencari ilmu.

“Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah memudahkan jalannya menuju Surga. Sesungguhnya para Malaikat membentangkan sayapnya untuk orang yang menuntut ilmu karena ridha atas apa yang mereka lakukan. Dan sesungguhnya orang yang berilmu benar-benar dimintakan ampun oleh penghuni langit dan bumi, bahkan oleh ikan-ikan yang berada di dalam air.” (Hadits shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 3641), Tirmidzi (no. 2682), Ibnu Majah (no. 223), Ahmad (V/196), Ad-Darimi (I/98), Ibnu Hibban (88 – Al-Ihsan dan 80 – Al-Mawarid ), Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (I/275-276, no. 129), Ibnu 'Abdil Barr dalam Jami' Bayanil 'Ilmi (I/174 ,no. 173), dan Ath-Thahawi dalam Musykilul Atsar (I/429), dari Abud Darda' radhiyallahu'anhu ]

Bukan sekedar absensi, tetapi memaknai. Memaknai setiap pertemuan dengan penuh pengharapan akan keridhoan-Nya. Setiap lelah, letih, kantuk, lapar, penat sepulang kerja. Harus belajar sampai malam hari di kampus yang sudah semakin sepi. Menyisihkan uang setiap bulannya untuk membayar biaya kulaih yang tidak sedikit, selain untuk kebutuhan hidup dan keluarga yang ada di kampung halaman. Ya, inilah yang semakin menjadikannya sebagai suatu prosesi yang teramat indah. Sebuah jalan dari tidakan dan perbuatan yang harus dijalani demi meraih keridhoan dan kebarokahan dari Allah swt.

Bismillah.. Bismillah.. Bismillah... La Khaula wala quwwata illa billahil 'aliyyil adziim...
Read More

Mengasah Kepekaan Hati dan Kepedulian Kita

Leave a Comment

Hari ini saya mendapat sebuah tautan (link) dari seorang teman di akun FB saya. Ya, tautan yang tiba-tiba saja menjadikan air mata saya keluar tanpa saya sadari. Benar, tidak bohong. Jangankan membaca kisah di dalam tautan itu, melihat film Bollywood dengan kisah yang menyentuh saja (seperti misalnya Veer Zaara) sudah cukup mampu menjadikan saya berlinangan air mata. Mungkin terdengar lebay, tapi itulah saya. Saya seorang penyuka film-film India dan seringkali bisa menangis ketika kisah di dalam film tersebut menyentuh hati saya.

Tapi bukan tentang film itu yang akan saya sampaikan di sini. Melainkan sebuah kisa yang sangat menyentuh nurani saya. Ya, kisah yang sangat mengharukan yang di-share oleh salah seorang teman saya di FB. Terlepas dari benar atau tidaknya kisah ini, hanya Allah yang Maha Tahu kebenarannya. Yang pasti satu hal yang sangat bisa saya ambil adalah, betapa sering kita menganggap remeh hal-hal kecil yang seringkali itu bagi kita tiada nilainya, tapi bagi mereka yang membutuhkan akan sangat besar maknanya.

Semoga kisah ini bisa menyadarkan kita dan menjadikan peka nurani kita.

Hari ini sesosok wanita tua mengetuk pintu kaca toko.
“Bu… Beli kue saya… Belum laku satupun… Kalau saya sudah ada yang laku saya enggak berani ketuk kaca toko ibu…”
Saya persilakan beliau masuk dan duduk.
Segelas air dan beberapa butir kurma saya sajikan untuk beliau.
“Ibu bawa kue apa?”
“Gemblong, getuk, bintul, gembleng, Bu.”
Saya tersenyum…
“Saya nanti beli kue ibu… Tapi ibu duduk dulu, minum dulu, istirahat dulu, muka ibu sudah pucat.”
Dia mengangguk.

“Kepala saya sakit, Bu.. Pusing, tapi harus cari uang. Anak saya sakit, suami saya sakit, di rumah hari ini beras udah gak ada sama sekali. Makanya saya paksain jualan,” katanya sambil memegang keningnya.
Air matanya mulai jatuh.
Saya cuma bisa memberinya sehelai tisu…

“Sekarang makan makin susah, Bu…. Kemarin aja beras gak kebeli… Apalagi sekarang… Katanya bensin naik.. Apa-apa serba naik.. Saya udah 3 bulan cuma bisa bikin bubur… Kalau masak nasi gak cukup. Hari ini jualan gak laku, nawarin orang katanya gak jajan dulu. Apa apa pada mahal katanya uang belanjanya pada enggak cukup…”
“Anak ibu sakit apa?” Saya bertanya.
“Gak tau, Bu… Batuknya berdarah…”
Saya terpana.

“Ibu, Ibu harus bawa anak Ibu ke puskesmas. Kan ada BPJS…”
Dia cuma tertunduk.
“Saya bawa anak saya pakai apa, Bu? Gendong gak kuat.. .Jalannya jauh… Naik ojek gak punya uang…”
“Ini Ibu kue bikin sendiri?”
“Enggak, Bu… Ini saya ngambil.” jawabnya.
“Terus ibu penghasilannya dari sini aja?”
Dia mengangguk lemah…

“Berapa Ibu dapet setiap hari?”
“Gak pasti, Bu… Ini kue untungnya 100-300 perak, bisa dapet Rp4 ribu -12 ribu paling banyak.”
Kali ini air mata saya yang mulai mengalir.
“Ibu pulang jam berapa jualan?”
“Jam 2.. .Saya gak bisa lama lama, Bu.. Soalnya uangnya buat beli beras… Suami sama anak saya belum makan. Saya gak mau minta-minta, saya gak mau nyusahin orang.”
“Ibu, kue-kue ini tolong ibu bagi-bagi di jalan, ini beli beras buat 1 bulan, ini buat 10x bulak-balik naik ojek bawa anak Ibu berobat, ini buat modal ibu jualan sendiri. Ibu sekarang pulang saja… Bawa kurma ini buat pengganjal lapar…”

Ibu itu menangis…
Dia pindah dari kursi ke lantai, dia bersujud tak sepatah katapun keluar lalu dia kembalikan uang saya.
“Kalau ibu mau beli.. Beli lah kue saya. Tapi selebihnya enggak bu… Saya malu….”
Saya pegang erat tangannya…
“Ibu… Ini bukan buat ibu… Tapi buat ibu saya… Saya melakukan bakti ini untuk ibu saya, agar dia merasa tidak sia-sia membesarkan dan mendidik saya… Tolong diterima…”

Saya bawa keranjang jualannya.
Saat itu aku memegang lengannya dan saya menyadari dia demam tinggi.
“Ibu pulang ya…”
Dia cuma bercucuran airmata lalu memeluk saya.
“Bu.. Saya gak mau ke sini lagi… Saya malu…. Ibu gak doyan kue jualan saya… Ibu cuma kasihan sama saya… Saya malu…”

Saya cuma bisa tersenyum.
“Ibu, saya doyan kue jualan Ibu, tapi saya kenyang… Sementara di luar pasti banyak yang lapar dan belum tentu punya makanan. Sekarang Ibu pulang yaa…”
Saya bimbing beliau menyeberang jalan, lalu saya naikkan angkot…
Beliau terus berurai air mata.
Lalu saya masuk lagi ke toko, membuka buka FB saya dan membaca status orang orang berduit yang menjijikan.

Mari kiya budayakan untuk berusaha semaksimal hidup kita, jangan mudah menadahkan tangan... memberi dengan bijak, membuat hidup lebih bermakna. Selama badan sanggup berdiri, kaki sanggup melangkah, pantanglah untuk berkeluh kesah dan mengasihani diri. Dan semoga dari kisah ini akan menjadikan hati dan perasaan kita lebih peka terhadap setiap gejala-gejala sosial di sekitar kita. Masih banyak saudara-saudara kita yang kondisinya lebih membutuhkan uluran tangan kita untuk mereka. Dan bisa jadi, rizki mereka sebenarnya dialirkan Allah swt melalui tangan-tangan kita.

Sumber: Ibu Ernydar Irfan dari link INI
Read More

Sederhana saja...

Leave a Comment

Ya, sederhana saja.. Jika benar engkau mencintainya, maka jauhilah dia agar tetap terjaga kemuliaan dan kehormatannya. Dekati orang tuanya. Dan mintalah dia kepada Sang Pemilik hatinya untuk membukakan hatinya untuk menerimamu sebagai imamnya. 
Read More

Long Life Education - Sekelumit Kisah Sukses Mas Joko

Leave a Comment

Long life education, pendidikan sepanjang hayat atau dalam bahasa yang lebih mudah; belajar seumur hidup. Konsep modern yang ditemukan ahir-ahir ini sangat relevan dengan perintah Rasulullah Muhammad SAW 15 abad yang lalu. Ya, pada saat itu Rasulullah Muhammad SAW  telah bersabda,

أُطْلُبُوا الْعِلْمَ مِنَ الْمَهْدِ اِلىَ اللَّهْدِ

yang artinya "Tuntulah ilmu dari ayunan sampai ke liang lahat", atau kalau dalam bahasa Sunda dikatakan "ti mimiti di eyong nepi ka disedong", Dan lebih jauh lagi, ada pula sebuah hadits yang mengatakan "Tholabul ilmi fariidotun ‘ala kulli muslimin wa muslimat" Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan, dan masih banyak lagi dalil baik dari Al-Qur'an ataupun Al-Hadist yang menunjukkan betapa pentingnya menuntut ilmu itu. Allah SWT menjanjikan kedudukan yang sangat tinggi bagi orang-orang yang berilmu dan beriman. (QS. Al-Mujadilah ayat 11)

Maka, tiada lagi alasan untuk tidak belajar selama kita masih bisa menghela napas, kita harus terus belajar selama denyut nadi, dtak jantung, aliran darah serta hidupnya pikiran masih ada dalam diri kita. Belajar apapun tanpa terkecuali. Selama apa-apa yang kita pelajari itu akan membawa kemanfaatan bagi sesama manusia, juga membawa kita menuju kepada kerihoan Allah SWT.

Tidak mesti belajar pada lembaga pendidikan formal. Belajar bisa dilakukan di manapun dan kapanpun. Karena begitu banyak hal yang kita bisa pelajari setiap harinya dari setiap apa yang kita lihat, kita alami, kita pikirkan... "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka". (QS. Ali Imran (3) ayat 190-191)

Ada sebuah cerita, kakak sepupu saya yang bernama Joko Susilo Mujiono, yang mana beliau saat ini (alhamdulillah..) tengah berada di puncak kesuksesannya sebagai seorang pengusaha. Ya, beliau sekarang tengah sukses sebagai seorang enterpreuner muda di bidang konstruksi bangunan, khusunya di bidang GRC Precast Panels di kota Padang Sumatra Barat. Di usia yang masih muda beliau berhasil mendirikan perusahaan yang bernama CV. Putra Mandiri.

Mas Joko dengan salah satu proyek GRC nya.
Yang akan saya bahas di sini bukan pada kondisi kesuksesan yang saat ini tengah beliau raih. Akan tetapi adalah bagaimana beliau bisa meraih itu semua. Saya sangat tahu karena beliau adalah kakak saya, anak satu-satunya dari Bu De saya. Mas Joko bukanlah lulusan Teknik Arsitektur dari ITB, atau bukan pula anak orang kaya yang mempunyai moda usaha yang besar. Mas Joko adalah sebagaimana saya dan keluarga saya yang lain yang mana kami semua adalah dari keluarga yang tidak mampu secara ekonomi. Mas Joko hanya lulusan SD yang pernah "sedikit" mencicipi sekolah di bangku SMP namun keluar karena ketiadaan biaya.

Akan tetapi apakah lantas beliau tidak pernah belajar? Tidak. Sama sekali tidak. Justru beliau terus belajar berbagai macam pengetahuan yang beliau dapatkan. Mulai dari bahasa inggris, ilmu komputer, ilmu elektronik, ilmu-limu rancang bagun, dan terutama motivasi-motivasi untuk berwira usaha. Pertanyaan selanjutnya, lantas dari mana beliau belajar itu semua?

Maka, jawaban atas pertanyaan itulah yang akan membuat kita "geleng-geleng kepala" sembari berdecak kagum. Ya, beliau belajar dari buku-buku yang selalu beliau baca dan beliau pelajari. Buku-buku itu beliau beli dari sebagian hasil kerja beliau selepas keluar dari sekolah. Kerja apa? Ini pula yang menjadikan kita "tidak percaya" lagi. Ya, beliau dulunya adalah seorang pemulung, ya benar pemulung. Ya dari hasil mulung itulah beliau membeli buku-buku yang beliau gunakan untuk belajar. Pernah juga menjadi kuli bangunan, buruh, sales dan hampir semua pekernyaan "rendah" pernah beliau kerjakan. Semua yang beliau raih saat ini adalah hasil dari kerja keras, doa, dan usaha beliau untuk selalu belajar dari manapun.

Saat ini beliau sudah memiliki lebih dari 40 karyawan. Kehidupan beliau secara ekonomi sudah sangat mapan, punya mobil, tanah, motor serta kehidupan keluarga yang harmonis. Dan yang paling mengangumkan dari beliau adalah setelah semua yang beliau raih saat ini ada di tangan, beliau tiada pernah berhenti untuk belajar. Saat ini beliau belajar menghafal Al-Qur'an. Subhanallah... Beliau belajar Tahfidzul Qur'an dari mp3 murotal yang beliau selalu dengarkan, kemudian setelah hafal beliau setorkan hafalan beliau untuk ditashih oleh salah seorang Kyai di kampung saya, Kyai Munawir Al-Hafidz via telepon (karena Mas Joko berada di Padang Sumatra Barat, sedang Pak Kyai Munawir ada di kampung saya di Grobogan jawa Tengah).

Inilah sekelumit kisah sukses nan inspiratif dari seorang yang selalu belajar tanpa kenal bosan. Terus belajar bahkan di saat dia sudah meraih puncak kesuksesannya. Maka benarlah firman Allah swt dalam QS Al-Mujadillah ayat 11.

يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنُوا إِذا قيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ وَ إِذا قيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَ الَّذينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجاتٍ وَ اللَّهُ بِما تَعْمَلُونَ خَبيرٌ

"Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu berlapang-lapanglah pada majlis-majlis, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan melapangkan bagi kamu. Dan jika dikatakan kepada kamu ; Berdirilah !, maka berdirilah Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang~rang yang diberi ilmu beberapa derajat ; Dan Allah dengan apapun yang kamu kerjakan adalah Maha Mengetahui."
Read More

Ya Robbi, Jagalah NU Kami...

2 comments

Saya sadar, saya bukan kader NU yang "sejati". Saya tidak pernah aktif di keorganisasian NU, PMII, Banser, ataupun keorganisasian berbasis NU yang lain. Saya bukanlah seorang santri tulen yang ngaji di pesantren-pesantren ternama di kalangan masyarakat Nahdliyin. Saya bukan anak atau keluarga yang menjadi pemuka NU.

Saya hanyalah seseorang yang merasa ikut memiliki NU, handarbeni NU. Karena saya lahir, besar, tumbuh dan hidup di kalangan masyarakat yang memegang nilai-nilai NU. Saya ngaji di mushola yang diajar oleh salah seorang kyai NU di kampung saya. Saya juga ngaji (lagi) di sebuah TPA (Taman Pendidikan Al-Qur'an) yang bernama TPA Manbaush Sholihin yang juga diasuh oleh salah seorang Kyai NU, Bpk Kyai Ruhani Roudli, AH. Di kampung saya terbiasa ikut yasinan, tahlilal, manaqiban, barzanji/diba'an, dan lain-lain sebagai mana masyarakat di kampung saya lakukan. Karena NU pula saya tahu tentang ibadah, baca Qur'an, tentang islam, tentang akhlak walaupun itu semua masih sangat sedikit (karena kebodohan saya).

Benar, sekali lagi, benar saya bukan orang NU yang benar-benar NU, seperti teman-teman saya yang banyak dari NU yang mereka benar-benar NU. Mereka aktif di keorganisasian NU, nyatri di pesantren-pesantren ternama NU, pinter baca kitab kuning, paham tentang segala seluk beluk ke-NU-an. Saya? Bukan apa-apa. Saya hanya memiliki kekaguman dan kerinduan kepada si mbah Kyai Hasyim Asyari, Mbah Moen, Gus Sholah, Gus Mus, Kyai Anwar Zahid...

Akan tetapi, walaupun seperti itu, barangkali rasa memiliki, roso handarbeni NU saya sama atau bahkan lebih besar daripada yang dirasakan teman-teman saya dan orang lain bahkan. Saya merasa tidak rela ketika NU disudutkan, NU dicaci maki, tradisi NU disalah-salahkan dan dibid'ah-bid'ahkan. Saya pun tidak rela jika NU kini dicap oleh (sebagian) orang sebagai organisasi yang telah tersusupi JIL (Jaringan Islam LIberal), tersusupi Syi'ah dan sebagainya.

Benar, saya tidak rela. Dan hati saya semakin sakit dan sedih ketika banyak melihat di pemberitaan bahwa momentum Muktamar NU yang ke-33 di Jombang diwarnai isu-isu dan berita negatif. Berita kegaduhan, perpecahan, money politic, dijaga pasukan Jin, bahkan berita tentang goyang oplosan di arena muktamar (astaghfirullah....) dan entah apalagi tersebar begitu luas dan booming di media massa. Saya tidak rela ketika berita-berita negatif itu semua dijadikan bahan olokan di media massa dan di media sosial.

Terahir saya membaca di sebuah harian, Gus Mus (KH Musthofa Bisri) sampai harus menangis dan hendak mencium kaki para mukatmirin demi menenangkan kegaduhan peserta muktamar.

Ya Allah... Entah apa yang tengah terjadi di dalam NU yang saya cintai ini, saya tidak tahu. Ya Robbi... jagalah NU kami ini, selamatkanlah NU kami ini dari orang-orang yang buruk dan ingin merusak NU kami ini.

... saya menangis karena NU yang selama ini dicitrakan sebagai organisasi keagamaan, panutan penuh dengan akhlakul karimah, yang sering mengkritik praktik-praktik tak terpuji dari pihak lain ternyata digambarkan di media massa begitu buruknya. Saya malu kepada Allah, malu pada KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Hasbullah, KH Bisri Syansuri dan para pendahulu kita. Lebih-lebih ketika saya disodori koran yang headlinenya ‘Muktamar NU Gaduh, Muktamar Muhammadiyah Teduh’.

... Di tanah ini terbujur kiai-kiai kita, di sini NU didirikan apa kita mau meruntuhkan di sini juga, Naudzubillah, saya mohon dengan kerendahan hati Anda melepasksan semuanya, dan memikirkan Allah dan pendiri kita.
Read More

Mamakku Tercinta, Selamat Ulang Tahun...

Leave a Comment

Ya, tangan itulah yang selalu menguatkanku hingga aku menjadi seperti sekarang ini. Ya, tangan itu yang selalu menjadi pembelaku di saat aku disakiti dan diolok oleh rekan sepermainan. Ya, tangan itulah yang selalu tiada lelah bekerja keras mencari nafkah demi mencukupi kehidupan aku dan adikku semenjak bapak tiada 18 tahun yang lalu. Ya, tangan itu pula yang kadang memukul kami dengan cinta, bukan itu menyakiti, tapi untuk mendidik kami dan menguatkan kepribadian kami.

Ya, kaki itulah yang selalu melangkah untuk dengan kuatnya demi sesuap nasi untuk anak-anaknya. Ya, kaki itu pula yang selalu menjadi tumpuan baginya untuk kuat menghadapi kerasnya kehidupan. Ya, kaki itu pula yang menemani langkahku menuju ke sekolah. Ya, kaki itu pula yang senantiasa segera berlari cepat di saat diri ini dalam kesulitan. Ya, kaki itulah yang senantiasa berdiri tegar untuk anak-anaknya tercinta.

Ya, wajah teduh itu, tutur lembut nan tegas itu, hati yang mulia itu, pribadi yang luar biasa itu, yang bibirnya tiada henti mengucap nasihat untukku. Yang bibirnya tiada henti memohon kepada-Nya untuk kebaikanku dan adikku. Ya, badan yang letih namun tak dirasakannya itulah yang selama ini menjadi sandaranku ketika aku terpuruk. Tangan dan tubuh yang tiada lelah dan bosan memeluk dan menguatkan diri ini saat diri ini dilanda keresahan.

Entah... rasanya tiada lagi ungkapan yang mampu aku sampaikan untuk menggambarkan kemuliaannya. Betapa mulia hati, jiwa, tutur kata dan segala yang ada padanya.

Dan kini, pada hari ini, Allah swt telah menggenapkan usianya yang ke-45 tahun. Hanya alunan doa dan doa yang bisa aku panjatkan pada Allah Sang penggenggam semesta, agar Dia selalu memberikan kebaikan dan kebarokahan dalam kehidupannya. Dipanjangkan umurnya, ditambahkan kesabarannya, diluaskan dan dibarokahkan rizkinya, serta disehatkan jiwa dan raganya. Hanya ucapan terimakasih yang tiada terhingga, yang dapat aku ucapkan untukmu Ibunda.

Barokallahu fi umurikum... Ananda sangat mencintaimu, walaupun sebesar apapun cintaku padamu, tiada akan pernah bisa menjadi penebus cinta dan pengorbananmu kepadaku, sampai kapanpun tiada akan pernah bisa. I love U Bundaku sayang, Ananda benar-benar mencintaimu...
Read More

Kuku dan Kehidupan

Leave a Comment

Ya, benar. Kuku dan kehidupan. kehidupan ini ibaratkan kuku-kuku yang ada di jari-jari kita. bahwasanya Allah swt telah menciptakan kehidupan kita sedemikian rupa. Pas. Sudah ada ketentuan dan ketetapan dari-Nya. Seperti kuku-kuku di jari-jari kita, kehidupan pun memiliki batas yang jelas  untuk kita menjalani kehidupan tersebut.

Kita telah diperintahkan oleh Allah swt untuk menjalani kehidupan ini dengan tidak melampaui batas-batas yang telah Dia tentukan itu. Segala kegundahan, kegelisahan, kegalauan, kesedihan yang berlarut-larut, ratapan, merasa kurang, ambisius, nggigi mongso, nggrangsang, jauh dari kedamaian, adalah akibat dari kehidupan kita yang melampaui batas-batas yang telah Allah swt tentukan.

Seperti kuku, dalam perjalanan kehidupannya, kuku memiliki batas yang jelas. Dimana dari batasan itu, kuku memenuhi fungsinya yaitu utnuk melindungi ujung jari yang lembut dan penuh urat saraf, serta mempertinggi daya sentuh. Ketika kuku tumbuh panjang dan melebihi batas yang telah Allah swt tetapkan, maka kuku itu harus dipotong.

Kenapa demikian? Ini adalah untuk kebaikan dari pemilik kuku itu sendiri. ketika kuku dibiarkan tumbuh panjang melebihi batasannya, maka kuku itu bukan lagi sebagai pelindung tubuh (ujung jari-jari kita) tapi malah akan menjadi sumber petaka bagi kita. Bisa dimulai dari tempat tumbuh dan berkembangnya penyakit dari kuku-kuku yang panjang dan kotor, atau jikalaupun kuku-kuku itu dibersihkan secara rutin maka tetap saja akan sangat berpotensi menimbulkan masalah untuk diri kita, misalnya dengan kuku-kuku yang panjang, jari-jari kita rentan terluka ketika terantuk (terbentur) benda keras. Kuku akan copot dan berdarah-darahlah jari-jari kita.

Bagaimana kuku-kuku yang dipanjangkan dan dirawat dengan perawatan tertentu...? Bukankah ini bisa menjadikan keindahan bagi pemiliknya? Iya, keindahan semu. Karena semakin mahal perawatan yang kita lakukan, semakin indah kuku-kuku kita, maka apakah semakin tenang perasaan kita? Apakah semakin damai jiwa kita? Tidak. Justru sebaliknya, semakin kawatir hati kita jangan-jangan nanti kuku-kuku yang telah dirawat sedemikian rupa itu rusak karena suatu hal. Selain itu, perawatan yang dikeluarkan untuk kuku-kuku itu juga merupakan tindakan yang berlebihan dan melampaui batas (boros). Itu semua adalah tindakan yang sia-sia. Padahal jika kita bisa memahami lebih jauh tentang hal ini, cukup dengan dipotong secara rutin ketika kuku-kuku itu sudah mulai memanjang melebihi batasnya, selesai. Simpel dan tidak ribet.

Maka seperti itulah kehidupan kita. Allah swt telah mengkaruniakan kehidupan kita sedemikian rupa sesuai dengan batasan yang telah Dia tentukan. Dan yakinlah, batasan itu adalah sudah pas dan sesuai dengan kita. Ketika kita merasa kurang, merasa belum mencapai ini-itu, merasa belum memiliki ini-itu, maka hati-hatilah.. jangan-jangan kehidupan kita sudah "tumbuh" melampaui apa yang telah Allah swt bataskan.

Karena jika kita mampu dan mau hidup sejalan dengan batasan yang telah Allah swt tentukan, maka kehidupan kita akan damai dan sejahtera. Hati akan lebih lapang, jiwa akan terasa tenang, pikiranpun akan lebih terang. Lain halnya ketika kita dan pola kehidupan kita telah melampaui batasannya, maka yang ada adalah kegelisahan, kegalauan, resah, gundah, ngoyo, dan selanjutnya yang ada hanyalah kesia-siaan semata yang kita lakukan. Dan pada ahirnya, kita akan sangat jauh dari apa yang disebut dengan kebahagiaan.

Maka, kuncinya adalah bersyukur dan iklas. Bersyukur dengan merasa cukup dengan apa yang telah kita miliki dan kita raih saat ini Serta iklas, buang dan potong segala kelebihan angan-angan dan ambisi-ambisi yang terus menggelayuti kita. Yang mana jika itu semua kita biarkan tumbuh dan semakin memanjang seperti kuku-kuku di jari-jemari kita yang tidak dipotong, maka kehidupan kita itu akan sangat berpotensi menjadi tempat bersarangnya kotoran, penyakit dan kehinaan, serta akan semakin menjerumuskan kita kepada kesia-siaan dan ketidak-tenangan. Tapi ketika kita bisa menjalai kehidupankita sesuai denga batasan yang telah Allah swt tetapkan, maka kebahagiaan dan kedamaian akan melingkupi kehidupan kita. Dan yakinlah, Allah swt akan mencukupkan kebutuhan kita.

فَمَنِ ابْتَغى وَراءَ ذلِكَ فَأُولئِكَ هُمُ العادُونَ

"Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas." (QS. Al-Mu'minuun [23] : ayat 7)


إِنَّمَا السَّبيلُ عَلَى الَّذينَ يَظْلِمُونَ النَّاسَ وَ يَبْغُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ أُولٰئِكَ لَهُمْ عَذابٌ أَليمٌ


"Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih." (QS. Asy-Syuura [42] : ayat 42)

Wallahu a’lam bish-shawabi.
Read More
Previous PostOlder Posts Home

Translate