Assalamu'alaykum...

Seorang hamba yang fakir dan naif. Yang kini tengah merasakan beragam bentuk tarbiyah dari Allah swt. Ya, seorang itu adalah saya, Teguh Prasetyo Utomo, seorang pembelajar yang selalu terus belajar untuk menggapai ridho-Nya.

author

Undangan Pernikahan

Leave a Comment


Ceritanya.. langsung saja mulai dengan gambar undangan nikah. Ya, betul,,, undangan nikah.. bukan undangan (ngajak untuk) nikah, tapi undangan dari teman yang akan melakukan akad nikah. Yang ceritanya adalah malam ini ba'da Isya tadi dia, temanku, bahkan sahabatku, teman sekamar sejak di panti asuhan, hingga tinggal di sebuah rumah di daerah Plemburan Nganglik, Sleman.


Alhamdulillah, sangat bahagia rasanya ketika temanmu memberikanmu undangan pernikahan. Apalagi aku juga tahu, memang dia sudah saatnya membangun keluarga. Dan aku yakin, insya Allah istrinya pun seorang yang sholihah. Dan ketika dia mengantarkan undangannya kepadaku, terasa sangat bahagia, sembari berdoa semoga akupun lekas bisa pula untuk segera "menyusul" dia untuk mendapatkan pelabuhan terahir hatiku ini. Ehm...


Karena saat ini diapun insya Allah sudah mendapatkan pelabuhan terahir cintanya. "Maha suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari mereka maupun apa2 yang mereka tidak ketahui." (Q.S. Yaasiin: 37)


Akad nikah akan dilaksanakan hari Ahad besok (tgl 15 Februari 2015). Dan semoga, "barokallahulaka wabaroka'alaika wajama'a baynakuma fi khoir."
Read More

Mukhoyyam - 2

Leave a Comment

Kembali tentang Mukhoyyam. Awal saya mendengar kata "mukhoyyam", saya kira ejaannya adalah "muqoyyam" yang berarti bermukim. Ternyata bukan, ejaan yang tepat adalah "MUKHOYYAM". Mukhoyyam merupakan kata yang diambil dari bahasa Arab yang artinya perkemahan. Mukhoyyam atau Ribatul Jihadiyah, yang dapat membentuk kita menjadi insan yang bersungguh-sungguh dalam dakwah sangat-sangat penting.

Mukhoyam menjadi suatu kewajiban yang tingkatannya sama dengan kewajiban usar (liqo’), tatsqif, dauroh, tatsqif, mabit dan sarana tarbiyah lainnya. Tidak perduli tua atau muda, senior atau pun pemula. Dan mukhoyyam pun harus ditunaikan baik dalam kondisi lapang maupun sempit, dalam kondisi rizki melimpah ataupun seret. Sebab, mestinya setiap kader dakwah sudah jauh-jauh hari menyiapkan waktu dan amal untuk menyongsong event serius ini.

"Berangkatlah kamu baik dalam keadaan ringan ataupun merasa berat, dan dan berjihadlah dengan harta dan jiwa pada jalan Alloh. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." (QS. At-Taubah [9] :41)

Mukhoyyam Merupakan Sarana Tarbiyah
Manusia terdiri dari 3 unsur dasar yaitu: akal, ruh dan fisik. Pembinaan manusia seutuhnya menemukan kesempurnaannya apabila melingkupi ketiga unsur tersebut. Tarbiyah Islamiyah harus mencakup tarbiyah fikriyah, tarbiyah ruhiyah dan tarbiyah jasadiyah. Ketiganya harus saling mengisi dan melengkapi. Berbeda dengan sarana tarbiyah yang lain yang mencakup satu atau dua aspek, mukhoyyam mencakup ketiga aspek tersebut di atas, meskipun aspek jasadiyah lebih dominan terutama pada jenjang-jenjang awal.

Mukhoyyam yang merupakan pengembangan dari kelompok-kelompok rihlah bukan hanya sudah menjadi tradisi jamaah sejak awal didirikan oleh Imam Asy Syahid, tetapi sudah berkembang menjadi salah satu wasaa’il tarbiyah (sarana tarbiyah) yang penting. Dalam manhaj 1421 buku panduan pembinaan kader-kader Islam dan dakwah, Manhaj Tarbiyah Islamiyah 1421 H, Bab IX tentang sarana disebutkan bahwa sarana tarbiyyah kita adalah: Halaqah, Usrah, Tatsqif, Daurah, Ta’lim, Mabit/Lailatul katibah/Jalsah Ruhiyah, Rihlah, Mukhoyyam.

Pandu Keadilan

Hal ini berarti mukhoyyam sama kedudukannya dengan sarana tarbiyah yang lain dan wajib dilaksanakan dalam proses tarbiyah, hanya berbeda fungsi, muatan dan teknis pelaksanaannya. Usrah, halaqah, tatsqif merupakan kewajiban pekanan. Daurah, ta’lim, mabit dan rihlah merupakan kewajiban bulanan atau beberapa bulanan. Sedangkan mukhoyyam merupakan kewajiban tahunan.


Menurut Dr. Ali Abdul Halim Mahmud dalam buku “Wasaa-ilut tarbiyah ‘inda Ikhwaanil Muslimin” (Perangkat Tarbiah IM, Intermedia): “Mukhoyyam tidak bisa digantikan oleh perangkat tarbiyah lainnya. Sepanjang sejarah jamaah, mukhoyyam merupakan perangkat yang sangat menonjol dan selalu dibutuhkan oleh perangkat tarbiyah lainnya”. Bahkan mukhoyyam disebut oleh para masyayikh sebagai mukammilut tarbiyah karena menyempurnakan perangkat-perangkat tarbiyah lainya.

Sebagai sarana tarbiyah mukhoyyam berfungsi sebagai: Sarana tajammu’, tarbiyah dan tadribah kader dengan mukhoyyam para kader dapat berkumpul untuk berinteraksi, saling mengenal, saling memahami, bekerja sama dan saling menolong. Para peserta juga mendapatkan shibghah islami, melatih disiplin, melatih berbagai ketrampilan maupun keahlian yang sangat bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam kondisi-kondisi tertentu. (dihimpun dari berbagai sumber).
Read More

Mukhoyyam

2 comments
Mukhoyyam. yup! Perkemahan kalau dalam istilah umum. Mukhoyyam sendiri bisa dikatakan sebagai suatu kewajiban yang tingkatannya sama dengan kewajiban usar (liqo’), tatsqif, dauroh, tatsqif, mabit dan sarana tarbiyah lainnya. Tidak perduli tua atau muda, senior atau pun pemula. Dan mukhoyyam pun harus ditunaikan baik dalam kondisi lapang maupun sempit, dalam kondisi rizki melimpah ataupun seret. Sebab, mestinya setiap kader dakwah sudah jauh-jauh hari menyiapkan waktu dan amal untuk menyongsong event serius ini.


Bekal Mukhoyyam

Ini merujuk pada suatu ayat, "Berangkatlah kamu baik dalam keadaan ringan ataupun merasa berat, dan dan berjihadlah dengan harta dan jiwa pada jalan Alloh. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." (QS. At-Taubah [9] :41)

Inilah yang menjadikanku "nekat" untuk tetap hadir di kegiatan mukhoyyam ini. Nekat, kok? hmmmm... bagaimana bisa dikatakan tidak nekat, sehari sebelum mukhoyyam, seusai pulang kerja sekira jam 3 sore, ke asrama untuk mengkondisikan anak2 asrama, sekaligus menyiapkan barang2 yang akan ku gunakan mukhoyyam, carrierbag seukuran 60 liter penuh dengan pakaian, jas hujan, obat2an, makanan, lampu darurat, matras.. hmmmm....

Setelah itu, langsung cabut... pulang ke Grobogogan, pulang ke rumah... dengan motor plus nggendong carrierbag full. Hujan... dari Jogja jam setengah 5 sore, sampai rumah jam setengah 9 malam. Secara, jarak Jogja - Karangrayung (Grobogan) sekira 140 km via Nogosari, Boyolali. Eh, kenapa kok musti pulang ke rumah? Besok mau mukhoyyam kan? Hmmmm iya Brooo... soalnya, pada hari yang sama, adikku mau piknik ke Bali. Makanya ane pulang dan ngasih uang saku ke adik, ngasih power bank, ngasih tablet, dan juga biar dia bisa pamitan ma ane. Adik satu2nya soalnya.

Naaah ini ni yang kadang bisa dianggap "gila" oleh sebagian orang... setelah tidur sebentar... bangun jam setengah 2, qiyyamullail, kemudian jam setengah 3 pagi cabut ke Jogja lagi, masih dengan naek motor plus ngegendong carrierbag. Sampai di Jogja jam setangah 5 pagi, mampir pom bensin buat sholat shubuh dan mandi. Selesai mandi langsung menuju ke DPC PKS Ngemplak, Sleman.

Naaaah... di sini dimulai petualangan mukhoyyam itu. Walaupun sebenarnya,sejak SMA ane sudah gak asing lagi dengan yang namanya kemah, karena ane memang aktif di kepramukaan (Dewan Ambalan dan juga Saka Bhayangkara). Tapi untuk mukhoyyam ini adalah pengalaman pertama yang ane rasakan. Hmmmmm...


Perkemahan masa SMA
Dan sekarang, perkemahan kader atau mukhoyyam ini lebih seru dan menantang dan pastinya full hikmah dan full ukhuwah. Bagaimana tidak, di sana kita bertemu dengan saudara2 kita yang sebelumnya tidak kita kenal. Karena mukhoyyam ini tidak hanya diikuti oleh kelompok halaqoh kita saja. tapi seluruh kader dari DPD Sleman dan Kulon Progo sejumlah sekitar 300an orang. Sholat 5 waktu wajib jama'ah, target tilawah perhari satu juz, pushup - backup - situp masing2 50 kali perhari. dengan tenda seadanya, masak sendiri, wajib qiyyamullail berjamaah setiap malamnya, dan banyak hal lagi.

Kesabaran dan militansi semakin teruji ketika hujan datang, kegiatan tetap berlanjut. Materi2 yang diajarkan selama mukhoyyam inipun sangat bagus, mulai dari tali-temali, PBB, Outbond, wawasan kebangsaan dan bela negara, materi P3K, dan lain2. Dan yang paling berkesan adalah ketika di ahir sesi, yaitu acara yang paling terahir.. Long March 6 jam menyusuri perbukitan Menoreh. Naik turun bukit, menyebrangi sungai, melintasi desa, memasuki hutan. Long March dengan jarak tempuh yg sedemikian jauh, dengan beban carrierbag 60 liter di punggung, hanya istirahat beberapa kali saat sholat tiba.

Subhanallah...



Sebelum pemberangkatan, di depan kantor DPC PKS Ngemplak

Logo Pandu Keadilan

Inilah indahnya ukhuwah... inilah indahya tarbiyah...
Read More

Kembali Menulis

Leave a Comment
Hmmmm setelah hampir setahun tidak menulis, hari ini saya ingin menuliskan tentang sesuatu. Ya... sekedar menulis saja. Mengenang saat-saat masih tinggal di Panti Asuhan Yatim Piatu dan Dhu'afa Al-Azhar Kulon Progo. Rasanya sudah lama sekali pergi dari sana. Rindu, dendam, kenangan, hmmmmm...... semoga dalam waktu dekat ini bisa ziarah ke sana, bersilaturrahim dengan ibu, bapak, dan adik2 di sana. :)

Sisipan, foto semasa masih tinggal di panti asuhan
Read More

Cukuplah Kematian Sebagai Pemberi Nasihat (Bagimu)

Leave a Comment

Ilustrasi kematian, sumber: internet

Hari ini, Senin, 24 Feb 2014 jam 07:49 wib dapat kabar lelayu dari rumah, ada saudara yang meninggal. Innalillahi wainna ilaihi rojiuun. Kita semua adalah milik Allah swt dan kepada Dialah kelak kita pasti akan kembali. Kematian adalah kepastian. kapan, di mana, bagaimana, dan kenapa kita akan mati, tiada seorangpun yang mengetahuinya.

Tiada yang perlu ditakuti dari sebuah kematian. Karena pada hakikatnya kematian adalah sebuah fase, atau semacam pintu gerbang dimana kita akan memulai kehidupan selanjutnya di alam yang berbeda, sama halnya dengan kelahiran. Yang perlu kita lakukan adalah mempersiapkan bekal sebaik-baiknya untuk kita memulai kehidupan yang baru melalui kematian itu. Bekal amal sholih yang diridhoi-Nya.. Sehingga kita nantinya bisa dengan bahagia memulai kehidupan yang baru untuk kita.

Janji Allah Swt kepada kita, “Ya ayyuhan nafsul muthmainnah, irji’i ila rabbiki radhiyatam mardhiyyah, Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati puas lagi diridhai-Nya” (Qur'an Surat Al-Fajr ayat 27-28).
Read More

Betapa Engkau Mencintaiku

Leave a Comment
Membaca tafsir surat Adh-Dhuha, merenungi makna di setiap barisan ayat-ayatnya. Ada keharuan, ada kesyahduan. Dan benar, batapa Allah swt sangat menyayagiku dan tiada pernah meninggalkan aku. Aku yang dulu bukanlah siapa2. Aku yang dulu hanya anak seorang janda miskin. Aku yang dulu hanya seorang anak yang sejak usia 8 tahun telah menjadi seorang yatim. Dengan berbagai cobaan hidup, dengan berbagai kesulitan yang ku hadapi, ternyata Allah swt masih selalu menjagaku, masih terus melindungi aku, masih tetap memudahkan setiap urusanku. Hingga saat ini, dengan Allah swt yang selalu memberiku nikmat dan karunia yang tiada terhingga.

Teguh... renungilah...
"Demi waktu dhuha. Dan demi malam apabila telah sampai kepada kesunyiannya."

Betapa..
"(Sungguh) Tuhanmu tiada pernah meninggalkanmu dan (pula) tiada pernah membencimu."
Karena..
"Dan sesungguhnya di kemudian hari itu lebih baik bagimu dari pada permulaanmu (yang sekarang ini). Dan kelak Tuhanmu akan memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu akan menjadi puas."
Ingatlah..
"Bukankah (dulu) Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu? Dan (bukankah) Dia (dulu) mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikanmu petunjuk? Dan (bukankah) Dia (dulu) mendapatimu sebagai seorang yang berkekurangan, lalu Dia memberikanmu kecukupan?"

Maka..
"Karena itulah, terhadap anak yatim kamu jangan berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang meminta-minta, janganlah kamu menghardik-nya. Dan terhadap (semua) nikmat Tuhanmu (yang telah diberikan-Nya untukmu), hendaklah kamu ceritakan." agar menjadi pembelajaran bagi orang2 di sekitarmu.

Ya Robbi, betapa Engkau mencintaiku.

Yogyakarta, Selasa/02 Juli 2013 at 00.15 AM
Read More

Galau? Hmmmm...

2 comments
Sedikit membuka cerita.

Pagi ini sekira pukul 05.12.15 WIB ada sebuah sms masuk di HP-ku. Setelah ku lihat ternyata dari seorang adik kelas saat SMA yang memang cukup akrab denganku. "Assalamu'alaykum.. Mas Teguh nembe sibuk gak?" Yang kemudian saya balas, "Wa'alaykumussalam wr wb. Mboten Dek. Pripun?" Diapun membalas lagi, "Aku mau tanya, boleh?" "Boleh to. Tanya apa? Serius amat katone?" Jawabku kemudian. Lalu apakah jawaban dia kemudian? "Gak begitu serius juga sih.. Emmm, apa sich yang bisa membuat sampeyan selalu semangat menjalani hari-hari?"



Nahh...

Lalu di mana sisi menariknya? Ya, tepat. Tentang motivasi dan semangat hidup. Itu yang dia tanyakan. Dari awal membaca pertanyaan di smsnya otu tadi aku sudah bisa menangkap bahwa dia tengah dalam kondisi futur, yaachh.. kalau bahasa anak sekarang disebut galau. Dia sedang butuh tempat curhat dan butuh motivasi. Dan ternyata benar. Setelah aku telisik lebih jauh ternyata memang benar dia sedah dakam kondisi terpuruk, galau, dan butuh motivasi.

Hmmm.. Ini bukanlah yang pertama kalinya buatku. Seringkali aku menerima sms2, inbox di FB, ditelepon, bahkan didatangi langsung oleh teman2 dan adik2 kelas yang tengah butuh motivasi. Entahlah aku juga tidak tahu, ada apa sebenarnya dengan kondisi generasi muda kita saat ini. Karena seringkali saya lihat di media sosial (FB maupun Twitter) banyak dari mereka yang meng-upload status atau nge-twit tentang kegalauan mereka.

Lalu bagaimana dong???

Hmmm,, Sekedar berbagi tanpa maksud menggurui. Sebenarnya kalau kita pikir2 kenapa sih kita musti galau? Apakah ada alasan yang tepat yang membenarkan kegalauan kita? Karena gak punya duit? Karena dapat nilai jelek? Karena diputus pacar? Atau karena apa?

Sebenarnya tidak ada alasan galau jika kita hanya meng-galau-i urusan-urusan duniawi. Tidak tepat rasanya kita resah, gelisah, gundah-gulana hanya karena memikirkan hal2 yang "tidak" penting. Ingat bro.. Kita hidup ini sudah diatur dengan cantiknya oleh Allah SWT. Semua yang kita alami kemaren, hari ini, dan bahkan esok hari itu sudah disetting secara sempurna olehNYA. Tak perlu galau. Toh kita tinggal manut saja dengan apa yang Allah SWT kehendaki. Allah Swt ingin A, kita manut A. Dia ingin B, kita manut B. Dengan ini kita akan merasakan hidup yang tenang dan damai, karena setiap hela nafas kita didasari dengan kepasrahan kepada Allah SWT. Innallaha ya'lamu wa antum la ta'lamuun. Allah SWT lebih tahu apa2 yang kita butuhkan. Dia lebih tahu apa2 yang tarbaik untuk hambaNYA. Jadi tak perlu galau lagi dengan angan2 dan pikiran2 yang tak jelas.

Dan juga seringkali ke-galau-an ini diakibatkan dari pola hidup kita yang kemrungsung, tidak qona'ah dan terlalu ambisius. Tingginya angan2 yang tidak dibarengi dengan penguatan ruhiyah (penguatan spiritual) akan pula mengakibatkan ke-galau-an ini. Semakin tinggi angan2, semakin besar ambisi kita untuk meraihnya. Dalam proses pencapaiannya pun akan membuat hidup kita kemrungsung dan tidak tenang. Apalagi jika kita gagal dalam mewujudkan apa yang kita angankan tersebut..

Untuk itu, perlu kiranya kita perbaiki pola hidup kita, jangan terlalu banyak target yang belum tentu sesuai dengan kemmpuan kita dalam meraihnya. Jalin silaturrahmi dengan sahabat, dengan kerabat, dengan teman.. Jangan sampai kita memutus tali silaturrahim. Sempatkan waktu kita untuk berkunjung ke rumah/tempat tinggal mereka. Kalaupun tidak bisa, sempatkan diri untuk sms, telpon. chatting dengan mereka. Tanyakan kabar mereka, minta mereka bercerita tentang pengalaman2 mereka, tentang aktivitas mereka, tentang impian2 mereka. Dari itu semua kita akan mendapatkan pengaruh2 positif, kita akan mendapatkan wawasan2 baru, semangat baru, ide2 baru, inspirasi2 baru dari setiap apa yang mereka ceritakan. Dan juga yang paling penting jalinan silaturrahim akan tetap terjaga dan kita tidak pernah merasa sendiri.

Memandang permasalahan yang datang kepada kita dari sisi yang positif juga sangat penting untuk kita lakukan. Jangan sampai kita terbelenggu oleh pikiran2 kita sendiri, oleh praduga2 yang tidak jelas. Suatu permasalahan bisa berbeda hasilnya jika kita pun memiliki sudut pandang yang berbeda dalam penyelesaiannya. Misal saja permasalahan A yang datang kepada kita, jika belum2 kita sudah phobia dan langsung memfonis dengan persepsi2 negatif maka sudah pasti masalah itu akan semakin rumit untuk kita uraikan. Tapi jika kita sudah memiliki persepsi awal yang positif, seberat dan sebesar apapun masalah itu pasti akan mudah untuk kita bisa menyelesaikannya.



Dan ahirnya...

HARAPAN, itulah kata kunci yang selama ini menjadi penyemangat dalam hidupku. Dengan harapan itu pula aku mencoba meraih mimpi2ku. Dengan harapan yang berkandaskan keimanan yang menancapkuat, aku menjalani hari2ku dengan keceriaan dan kebahagiaan. Dan yang pasti hanya kepada Allah SWT-lah aku menggantungkan harapanku, menggantungkan asaku, memasrahkan segala kehidupan dan kematianku (kelak). Jadi, kalau semua sudah ditetapkan oleh Allah SWT, apa lagi yang harus kita galau-kan? So,, say no to galau? Oke bro??? ^_^

Yogyakarta, Rabu/26 Juni 2013 at 03.36 PM
Read More
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home

Translate