Assalamu'alaykum...

Seorang hamba yang fakir dan naif. Yang kini tengah merasakan beragam bentuk tarbiyah dari Allah swt. Ya, seorang itu adalah saya, Teguh Prasetyo Utomo, seorang pembelajar yang selalu terus belajar untuk menggapai ridho-Nya.

author

Antara Tarawih dan Tahajjud, bedakah?

Leave a Comment

Istilah tarawih, tahajjud dan qiyamullail ini seringkali bikin kita pusing. Sebab banyak sekali yang memahaminya dengan rancu dan terbolak-balik. Oleh karena itu mari coba kita bahas pelan-pelan, semoga menjadi terurai dan jelas masing-masing maknanya.

A. Pengertian Qiyamullail

Kita mulai dari pengertian qiyamullail dulu, karena ruang lingkupnya paling luas. Para ulama mengatakan bahwa qiyamullail sebagaimana maknanya secara bahasa : bangun malam, maksudnya adalah semua jenis shalat yang dikerjakan malam hari, khususnya setelah shalat Isya' hingga shalat shubuh.

Sehingga baik shalat tarawih atau pun shalat tahajjud, keduanya termasuk ke dalam qiyamullail. Namun tentu saja antara tarawih dan tahajjud punya banyak sekali perbedaan.

B. Perbedaan Antara Shalat Tarawih dan Tahajjud

Meski sama-sama tercakup dalam agenda qiyamullail, namun umumnya para ulama membedakan antara shalat tarawih dengan tahajjud. Setidaknya ada delapan perbedaan yang bisa kita catat dalam kesempatan ini. Di antara perbedaan-perbedaan itu antara lain :

1. Perbedaan Pertama : Masa Pensyariatan Tarawih
Tarawih belum disyariatkan ketika Rasulullah SAW masih di Mekkah, maka selama di masa Mekkah tidak dikenal shalat tarawih, karena baru nanti ketika di Madinah setelah hijrah Rasulullah SAW melaksanakannya.

Berbeda dengan shalat tahajjud yang disyariatkan sejak awal mula masa kenabian. Ada yang mengatakan bahwa wahyu kedua yang turun sudah memerintahkan bangun malam dalam arti shalat tahajjud. Intinya, shalat tahajjud sudah dikenal dan disyariatkan sejak masih di masa Mekkah.

Hingga akhir masa kehidupan Nabi SAW, beliau masih terus melakukan shalat tahajjud. Sedangkan shalat tarawih, dengan alasan takut diwajibkan, beliau SAW dan para shahabat tidak lagi melakukannya hingga wafat.

Dari sisi pensyariatannya saja, tarawih dan tahajjud memang sudah berbeda. Maka jangan sampai rancu dalam memahami keduanya.


2. Perbedaan Kedua : Tarawih Nabi SAW Hanya Tiga Kali
Sebagaimana disinggung di atas, kalau kita telurusi hadits-hadits yang shahih, ternyata shalat tarawih di masa Nabi SAW dilakukan hanya tiga kali saja. Shalat itu dilakukan secara berjamaah dan dilakukan di dalam masjid nabawi.

Semakin hari semakin ramai para shahabat yang mengikutinya, hingga kemudian beliau SAW menghentikannya. Sehingga para shahabat pun otomatis juga meninggalkannya. Alasannya karena beliau khawatir bila tarawih diwajibkan dan akan memberatkan.

Tidak ada keterangan yang valid apakah beliau SAW mengerjakannya sendirian di rumah. Yang jelas ketika meninggalkannya, Rasulullah SAW menegaskan alasannya, yaitu karena takut tarawih itu diwajibkan.

Sedangkan shalat tahajjud dilakukan oleh Rasulullah SAW setiap malam, tanpa pernah dihentikan lantaran takut diwajibkan. Maka sepanjang hidupnya pada tiap malam beliau SAW selalu melakukan shalat tahajjud. Tidak peduli apakah di dalam bulan Ramadhan atau di luar bulan Ramadhan, karena tahajjud khusus buat beliau SAW hukumnya wajib.

3. Perbedaan Ketiga : Tarawih Hanya di Bulan Ramadhan
Para ulama umumnya sepakat bahwa shalat Tarawih itu bukan shalat tahajjud. Hal utama yang membedakan tarawih dengan tahajjud adalah bahwa tarawih ini hanya disyariatkan di bulan Ramadhan saja.

Tidak ada shalat tarawih yang dikerjakan di luar bulan Ramadhan. Di luar bulan Ramadhan, kalau ada shalat yang disunnahkan, hanya shalat tahajjud dan shalat witir. Tahajjud dilakukan oleh Rasulullah SAW setelah beliau tidur malam, sedangkan shalat witir merupakan penutupnya.

Namun ada juga keterangan bahwa shalat witir itu bisa dikerjakan sebelum tidur. Namun namannya tetap shalat witir dan bukan tarawih.

4. Perbedaan Keempat : Tarawih Berjamaah di Masjid
Perbedaan penting antara tarawih dan tahajjud adalah bahwa selama tiga kali Rasulullah SAW dan para shahabat melakukannya, semua dilakukan dengan berjamaah yang amat banyak, bahkan hingga memenuhi masjid nabawi kala itu.

Bahkan salah satu alasan kenapa shalat tarawih saat itu dihentikan juga salah satunya karena jamaahnya semakin banyak. Sehingga Rasulullah SAW khawatir bila hal itu dibiarkan terus menerus, akhirnya akan diwajibkan oleh Allah SWT.

Sedangkan shalat tahajjud, meski hukumnya boleh berjamaah, tetapi dalam kenyataannya Rasulullah SAW lebih sering melakukannya sendirian, tidak mengajak orang-orang untuk ikut di belakang beliau. Kadang beliau mengerjakannya di dalam rumah (kamar Aisyah), kadang beliau lakukan di dalam masjid.

Kalau pun ada shahabat yang ikut jadi makmum, paling-paling satu dua orang saja. Tidak ada catatan bahwa shalat tahajjud yang beliau SAW lakukan diikuti orang satu masjid.

Oleh karena itulah kebanyakan ulama lebih menganjurkan shalat tahajjud dikerjakan sendirian, meski ada juga yang membolehkan untuk dikerjakan berjamaah di masjid.

5. Perbedaan Kelima : Tarawih Sebelum Tidur
Shalat tarawih yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dan para shahabat yang hanya tiga kali itu ternyata dilakukan sesudah shalat isya' dan sebelum tidur malam. Mirip dengan yang semua orang lakukan di masa sekarang ini.

Sedangkan shalat tahajjud dilakukan oleh Rasulullah SAW di akhir malam, setelah beliau SAW selesai beristirahat tidur malam. Tidak ada shalat tahajjud yang dilakukan pada awal malam.

Secara bahasa, kata tahajjud (تهجد) berasal dari kata hujud (هجود). Menariknya, kata tahajjud punya dua arti sekaligus yang berlawanan, begadang dan tidur. Jadi bisa diterjemahkan menjadi begadang, tapi kadang bisa juga diterjemahkan menjadi tidur.
Al-Azhari dalam Lisanul Arab menyatakan bahwa bila kita menyebut Al-Hajid (الهاجد) artinya adalah orang yang tidur. Kata hajada (هجد) bermakna tidur di malam hari (نام بالليل).

Sedangkan kalau kita sebut Al-Mutahajjid (المتهجد) artinya adalah orang yang bangun pada malam hari untuk ibadah. Seolah-olah mutahajjid ini adalah orang yang membuang hujud (tidur) dari dirinya.

Sedangkan secara istilah syariat, di dalam kitab Nihayatul Muhtjd jilid 2 hal. 127 disebutkan bahwa tahajjud adalah :

صَلاَةُ التَّطَوُّعِ فِي اللَّيْل بَعْدَ النَّوْمِ

Shalat tathawwu' pada malam hari setelah bangun dari tidur.

Hal ini dikuatkan dengan hadits dari Al-Hajjaj bin Amr radhiyallahuanhu :

يَحْسِبُ أَحَدُكُمْ إِذَا قَامَ مِنَ اللَّيْل يُصَلِّي حَتَّى يُصْبِحَ أَنَّهُ قَدْ تَهَجَّدَ إِنَّمَا التَّهَجُّدُ : الْمَرْءُ يُصَلِّي الصَّلاَةَ بَعْدَ رَقْدَةٍ

Ada seorang diantara kalian yang mengira bila seseorang shalat di malam hari hingga shubuh, dia dikatakan sudah bertahajjud. Padahal tahajjud itu adalah seseorang melakukan shalat setelah bangun dari tidur.

6. Perbedaan Keenam : Rakaat Tarawih Ikhtilaf
Bicara jumlah rakaat tahajjud, kita punya banyak hadits yang menyebutkan bahwa beliau SAW mengerjakannya dengan 11 atau 13 rakaat.

كَانَ رَسُول اللَّهِ يُصَلِّي مِنَ اللَّيْل ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً

Adalah Rasulullah SAW shalat malam dengan 13 rakaat (HR. Muslim)

Namun ada juga hadits yang menyebutkan bahwa beliau SAW shalat malam tidak lebih dari 11 rakaat, sebagaimana hadits Aisyah radhiyallahuanha berikut ini :

مَا كَانَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلاَ غَيْرِهِ عَلَى إحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً

Beliau SAW (shalat malam) tidak pernah lebih dari 11 rakaat, baik di dalam bulan Ramadhan atau di luar bulan Ramadhan (HR. Bukhari)

Tetapi kalau kita bicara tentang jumlah rakaat tarawih yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dan para shahabat, maka timbul ikhtilaf di tengah lama. Mengapa?

Ternyata memang kita tidak menemukan haditsnya. Sehingga berapa jumlah rakaatnya, tidak pernah disebutkan dalam hadits secara tegas. Kalau ada yang bilang beliau mengerjakan 11 atau 20 rakaat, tentu bukan merupakan fakta dari nash hadits, melainkan sekedar tafsir dan asumsi.

Memang ada segelintir orang yang bilang bahwa beliau tarawih 11 rakaat berdasarkan hadits Aisyah yang shahih. Haditsnya memang shahih, tetapi para ulama umumnya sepakat bahwa hadits itu bukan terkait dengan shalat tarawih, melainkan shalat tahajjud itu sendiri.

Kalau untuk shalat tahajjud, umumnya para ulama sepakat bahwa beliau mengerjakannya 11 rakaat. Tetapi untuk tarawih, tidak ada satu pun dalil tentang jumlahnya di masa Nabi SAW.

Data yang paling valid tentang jumlah rakaat tarawih adalah tarawih yang dilakukan seluruh shahabat sepeninggal Rasulullah SAW di masa kepemimpinan Umar bin Al-Khattab radhiyallahuanhu, tepatnya tahun kedua sejak beliau menjadi khalifah.

Seluruh shahat telah berijma' untuk mengerjakan tarawih sebanyak 20 rakaat, tidak ada satupun yang menolaknya. Asumsinya, kalau seluruh shahabat mengerjakan 20 rakaat, pastilah mereka tidak ngasal dan bukan ngarang. Logikanya, pastilah mereka melakukannya persis seperti yang dahulu mereka lakukan di masa Nabi SAW, yaitu sebanyak 20 rakaat.

Tetapi sekali lagi, itu sekedar asumsi, nalar dan logika berpikir, bukan fakta yang sesungguhnya. Meskipun demikian, hampir seluruh ulama sepakat bahwa jumlah rakaat tarawih itu 20 rakaat berdasarkan ijtihad.

7. Perbedaan Ketujuh : Hukum Shalat Tarawih
Meski pernah dihentikan pengerjaannya di masa Nabi SAW, namun para ulama sepakat bahwa penghentian itu bukan berarti pencabutan atas pensyariatannya. Penghentian itu semata karena alasan takut diwajibkan, sehingga ketika beliau SAW wafat, maka kekhawatiran itu tidak lagi beralasan. Sebab tidak ada pensyariatan apapun sepeniggal beliau SAW.

Maka para shahabat menjalankan shalat tarawih ini dengan status hukum sunnah, dan sebagian lagi memberi status sunnah muakkadah.

Berbeda dengan tahajjud, dimana banyak ulama mengatakan bahwa hukumnya wajib buat Rasulullah SAW dan sunnah buat ummatnya. Perhatikan hadits berikut ini :

ثَلاَثٌ هُنَّ عَلَيَّ فَرَائِضَ وَهُنَّ لَكُمْ تَطَوُّع: الوِتْرُ وَالنَّحْرُ وَصَلاَةُ الضُّحَى

Tiga perkara yang bagiku hukumnya fardhu tapi bagi kalian hukumnya tathawwu' (sunnah), yaitu shalat witir (tahajjud), menyembelih udhiyah dan shalat dhuha. (HR. Ahmad dan Al-Hakim)

8. Perbedaan Kedelapan : Tarawih Banyak Istirahatnya
Perbedaan yang juga bisa kita catat bahwa shalat tarawih ini banyak istirahatnya, sebagaimana nama yang disematkan kepadanya.

Duduk istirahat di sela-sela rakaat tarawih itu menjadi amat mutlak diperlukan. Karena umumnya jumlah rakaatnya banyak dan bacaannya cukup panjang. Tidak mungkin semua itu dilakukan dengan cara berdiri terus-terusan tanpa jeda istirahat. Apalagi yang ikut shalat ini cukup banyak jumlahnya.

Lain halnya tahajjud yang umumnya Nabi SAW melakukannya sendirian. Banyak riwayat yang menyebutkan bahwa beliau SAW shalam sampai bengkak kakinya, karena saking lamanya. Tidak ada riwayat yang menyebutkan bahwa beliau beristirahat di sela-sela rakaat tahajjud.

Wallahu a'lam bishshawab.
*Sumber: Rumah Fiqih
Read More

Harusnya Ramadhan Itu...

Leave a Comment


Harusnya Ramadhan itu menjadikan lisan kita lebih terjaga. Tidak akan keluar dari lisan kita kecuali itu ungkapan dan perkataan yang mulia nan sarat makna. Tidak akan keluar dari lidah kita kecuali kata-kata yang menjadikan bahagia orang-orang sekeliling kita. Tidak akan terucap dari mulut kita kata-kata yang menyakitkna hati, menjadikan benci, menimbulkan dendam dan menjadikan permusuhan. Ghibah dan fitnah kita jauhi bahkan kita tinggalkan.

Harusnya Ramadhan itu menjadikan mata kita lebih terjaga. Tidak akan kita melihat kecuali kebiakna dan kemanfaatan. Tidak akan kita melihat kecuali itu untuk menambah ketaqwaan kita kepada Allah swt. tidak akan kita melihat hal-hal yang tidak baik kecuali itu tiada kita sengaja. Tidak akan kita melihat kecuali untuk meraih kecintaan-Nya kepada kita. Pandangan yang meneduhkan orang-orang sekeliling kita, pandangan yang senantiasa terjaga dari kemaksiatan. Mata yang tajam menatap kebajikan, mata yang menunduk ketika melihat kemaksiatan.

Harusnya Ramadhan itu menjadikan menjadikan tangan kita lebih terjaga. Tidak akan kita gunakan tangan kita kecuali untuk kebajikan. Tidak akan kita gerakkan tangan kita kecuali untuk kemuliaan. menolong sesama, mengulurkan shodaqoh, zakat, dan infaq. Mengulurkan tangan untuk si papa dan kaum dhu'afa. Membelai kepala si yatim dan piatu dengan kasih mesra.

Harusnya Ramadhan itu menjadikan kaki kita lebih terjaga. Tidak akan melangkah kaki kita kecuali untuk ibadah. tidak akan melangkah kaki kita kecuali menuju kepada kebaikan dan kemuliaan. Mendatangi majelis ilmu dan menghadiri majelis Qur'an. Tidak akan melangkah kaki kita kecuali untuk sholat dan tarawih berjamaah.

Harusnya Ramadhan itu menjadikan telinga kita lebih terjaga. Terjaga dari mendengar kabar dan berita yang tidak benar. Terjaga dari mendengar ghibah dan gunjingan yang menjerumuskan. Tiada kita dengarkan kecuali itu kebaikan dan kemuliaan. Mendengarkan pengajian, mendengarkan tilawah Al-Qur'an, mendengarkan segaal bentuk kebaikan.

Harusnya Ramadhan itu menjadikan pikiran kita lebih terjaga. Tiadak pernah kita berpikir kepada kemaksiaatan dan kejahatan. Tidak kita pikirkan kecuali itu kebaikan dan kemuliaan. Berpikir tentang peningkatan kualitas diri, kualitas iman, kualitas taqwa. Berpikir untuk keluarga dan masyarakat kita. Berpikir untuk setiap kebesaran-Nya yang tersebar di seluruh penjuru dunia.

Harusnya Ramadhan itu menjadikan hati kita lebih terjaga. Terajaga dari noda akibat dosa dan kemaksiatan. Terjaga dari resah dan gelisah karena jauh dari Rabb yang dirindukan. Terjaga dari ujub, kikir, takabur, tamak, dan segala bentuk penyakit hati lainnya. Menjadikan hati kita terjaga dari segala syahwat duniawi yang menyesatkan.
Read More

Puasa: Lapar? Sudah pasti. Pahala? Hmmmm....

Leave a Comment
Puasa itu lapar (dan juga haus). Itu sudah pasti... Setiap orang yang berpuasa pasti mendapatkan dua hal itu. Bahkan ketika sedang tidak berpuasa pun, kita tetap merasakan lapar dan haus kan? Akan tetapi, bukan itu tujuan kita berpuasa. Bukankah kita masih ingat, bahwa Allah swt berfirman.. Ya ayyuhal ladzina amanu, kutiba alaikumus shiam, kama kutiba allaladzina min qoblikum la'alakum tataqun…

Inilah esensi kita dalam berpuasa, sebagai bentuk ketunduakan kita kepada perintah Allah swt. Karena Allah swt menciptakan kita bukan untuk apa-apa melainkan untuk beribadah kepada-Nya. Wama khalaqtul jinna wal-insa illa li-ya'buduni. Dalam surat Az-Zariat ayat 56 ini Allah swt dengan jelas menyatakan bahwa tugas kita adalah beribadah kepada Allah swt. Puasa, ini adalah salah satu bentuk dari sekian banyak ibadah kita kepada Allah swt. Maka kembali kepada ayat yang pertama kita baca tadi, ...la'alakum tataqun… inilah inti dari puasa. Agar kita, umat Islam menjadi orang-orang yang bertaqwa. Yang (dengan iklas) menjalankan setiap perintah Allah swt, dan meninggalkan setiap apa yang Dia larang, dengan tujuan meraih ridho Allah swt. 

Maka, dengan ini, kita bisa menjadikan pijakan bagi kita selama Ramadhan ini. Akankan puasa kita sudah mengarahkan kita untuk berjalan ke arah taqwa? Atau malah sebaliknya, hanya lapar dan dahaga semata yang kita dapatkan? 

Sejenak kita renungi.. akankah puasa kita selama ini sudah berbuah taqwa? Atau minimal mengarahkan kita ke arah taqwa... Jika kita ingin puasa kita menjadikan kita sebagai orang-orang yang bertaqwa.. maka mari kita hiasi puasa kita dengan segala bentuk kebaikan. Kita lipat gandakan keiklasan kita, shodaqoh, infaq, ngaji, tilawah Al-Qur'an, sholat dhuha, tarawih, tahajjud, dan bahkan bekerjapun bisa menjadi ladang pahala yang luar biasa bagi kita di bulan ini. Allah swt membuka pintu-pintu syurga, dan menutup rapat-rapat pintu neraka. Dibelenggu segala syetan, serta diterima setiap taubat dan dikabulkan segala doa.

Dan tahukah sabahat apa balasan tertinggi bagi orang-orang yang bertaqwa itu? 
Tak lain tak bukan adalah syurga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai dengan air yang tidak berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamr yang lezat dan sungai-sungai dari madu yang disaring dan bagi mereka tersedia segala macam buah-buahan dan ampunan dari Allah swt. (QS. Muhammad ayat 15)
Subhanallah...
Read More

Hati yang Berbolak-balik

3 comments


"Ya Muqolliba Qulub Tsabbit Qolbi ' Ala Diinik." Wahai Dzat yang membolak-
balikkan hati. Teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.

Ya, berbicara tentang hati (qolbu) memang cukup rumit. Hati dipenuhi beragam misteri. Seolah hati ini bukan atas kuasa kita, dan bisa jadi hatilah yang menguasai kita. Karena ada sebuah hadist yang mengatakan bahwa hati ibarat raja, dan seluruh anggota tubuh kita adalah rakyatnya. Jika raja tersebut mengarahkan kepada kebaikan, maka seluruh yang ada pada diri kita akan melakukan kebaikan. Pun demikian sebaliknya, ketika hati mengarahakan kita untuk berbuat keburukan, maka kitapun akan menjadi seseorang yang melakukan keburukan.

"Ya Muqolliba Qulub Tsabbit Qolbi ' Ala Diinik." Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati. Teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.

Inilah yang bisa kita lakukan, berdo'a, berdo'a untuk hati kita. Agar Allah swt senantiasa menjaga hati kita. Agar Allah swt senantiasa meneguhkan hati kita. Agar Allah swt senantiasa menjadikan hati kita hati yang selamat, qolbun saliim. Karena kita bukanlah penguasa hati kita, akan tetapi Dialah Allah swt yang menjadi Raja atas hati kita. Mintalah kepada-Nya agar kita diberikan keteguhan, dibersihkan hati kita dari setiap noda dari dosa-dosa yang selalu kita lakukan.

"Ya Muqolliba Qulub Tsabbit Qolbi ' Ala Diinik." Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati. Teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.

Karena tanpa kuasa-Nya, tanpa hidayah-Nya, tanpa cahaya dari-Nya... hati kita akan buta, hati kita akan gelap, dan hati kita akan tersesat. Dan ini semua akan berbuah kepada perbuatan kita yang semakin jauh dari kebenaran, semakin jauh dari kebaikan, semakin jauh dari kemuliaan. Akibatnya, hati kita akan semakin gelap, menghitam dan semakin tebal nodanya. Akan tetapi ketika Allah swt memberikan petunjuk-Nya, Allah swt menyinari hati kita, Allah swt membimbing hati kita, maka hati kita akan putih, bersih dan terang... perbuatan kita akan selalu dekat dengan kebaikan, akan senantiasa dekat dengan keshalihan, akan selalu dekat dengan kemuliaan.
Read More

Undangan Pernikahan

Leave a Comment


Ceritanya.. langsung saja mulai dengan gambar undangan nikah. Ya, betul,,, undangan nikah.. bukan undangan (ngajak untuk) nikah, tapi undangan dari teman yang akan melakukan akad nikah. Yang ceritanya adalah malam ini ba'da Isya tadi dia, temanku, bahkan sahabatku, teman sekamar sejak di panti asuhan, hingga tinggal di sebuah rumah di daerah Plemburan Nganglik, Sleman.


Alhamdulillah, sangat bahagia rasanya ketika temanmu memberikanmu undangan pernikahan. Apalagi aku juga tahu, memang dia sudah saatnya membangun keluarga. Dan aku yakin, insya Allah istrinya pun seorang yang sholihah. Dan ketika dia mengantarkan undangannya kepadaku, terasa sangat bahagia, sembari berdoa semoga akupun lekas bisa pula untuk segera "menyusul" dia untuk mendapatkan pelabuhan terahir hatiku ini. Ehm...


Karena saat ini diapun insya Allah sudah mendapatkan pelabuhan terahir cintanya. "Maha suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari mereka maupun apa2 yang mereka tidak ketahui." (Q.S. Yaasiin: 37)


Akad nikah akan dilaksanakan hari Ahad besok (tgl 15 Februari 2015). Dan semoga, "barokallahulaka wabaroka'alaika wajama'a baynakuma fi khoir."
Read More

Mukhoyyam - 2

Leave a Comment

Kembali tentang Mukhoyyam. Awal saya mendengar kata "mukhoyyam", saya kira ejaannya adalah "muqoyyam" yang berarti bermukim. Ternyata bukan, ejaan yang tepat adalah "MUKHOYYAM". Mukhoyyam merupakan kata yang diambil dari bahasa Arab yang artinya perkemahan. Mukhoyyam atau Ribatul Jihadiyah, yang dapat membentuk kita menjadi insan yang bersungguh-sungguh dalam dakwah sangat-sangat penting.

Mukhoyam menjadi suatu kewajiban yang tingkatannya sama dengan kewajiban usar (liqo’), tatsqif, dauroh, tatsqif, mabit dan sarana tarbiyah lainnya. Tidak perduli tua atau muda, senior atau pun pemula. Dan mukhoyyam pun harus ditunaikan baik dalam kondisi lapang maupun sempit, dalam kondisi rizki melimpah ataupun seret. Sebab, mestinya setiap kader dakwah sudah jauh-jauh hari menyiapkan waktu dan amal untuk menyongsong event serius ini.

"Berangkatlah kamu baik dalam keadaan ringan ataupun merasa berat, dan dan berjihadlah dengan harta dan jiwa pada jalan Alloh. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." (QS. At-Taubah [9] :41)

Mukhoyyam Merupakan Sarana Tarbiyah
Manusia terdiri dari 3 unsur dasar yaitu: akal, ruh dan fisik. Pembinaan manusia seutuhnya menemukan kesempurnaannya apabila melingkupi ketiga unsur tersebut. Tarbiyah Islamiyah harus mencakup tarbiyah fikriyah, tarbiyah ruhiyah dan tarbiyah jasadiyah. Ketiganya harus saling mengisi dan melengkapi. Berbeda dengan sarana tarbiyah yang lain yang mencakup satu atau dua aspek, mukhoyyam mencakup ketiga aspek tersebut di atas, meskipun aspek jasadiyah lebih dominan terutama pada jenjang-jenjang awal.

Mukhoyyam yang merupakan pengembangan dari kelompok-kelompok rihlah bukan hanya sudah menjadi tradisi jamaah sejak awal didirikan oleh Imam Asy Syahid, tetapi sudah berkembang menjadi salah satu wasaa’il tarbiyah (sarana tarbiyah) yang penting. Dalam manhaj 1421 buku panduan pembinaan kader-kader Islam dan dakwah, Manhaj Tarbiyah Islamiyah 1421 H, Bab IX tentang sarana disebutkan bahwa sarana tarbiyyah kita adalah: Halaqah, Usrah, Tatsqif, Daurah, Ta’lim, Mabit/Lailatul katibah/Jalsah Ruhiyah, Rihlah, Mukhoyyam.

Pandu Keadilan

Hal ini berarti mukhoyyam sama kedudukannya dengan sarana tarbiyah yang lain dan wajib dilaksanakan dalam proses tarbiyah, hanya berbeda fungsi, muatan dan teknis pelaksanaannya. Usrah, halaqah, tatsqif merupakan kewajiban pekanan. Daurah, ta’lim, mabit dan rihlah merupakan kewajiban bulanan atau beberapa bulanan. Sedangkan mukhoyyam merupakan kewajiban tahunan.


Menurut Dr. Ali Abdul Halim Mahmud dalam buku “Wasaa-ilut tarbiyah ‘inda Ikhwaanil Muslimin” (Perangkat Tarbiah IM, Intermedia): “Mukhoyyam tidak bisa digantikan oleh perangkat tarbiyah lainnya. Sepanjang sejarah jamaah, mukhoyyam merupakan perangkat yang sangat menonjol dan selalu dibutuhkan oleh perangkat tarbiyah lainnya”. Bahkan mukhoyyam disebut oleh para masyayikh sebagai mukammilut tarbiyah karena menyempurnakan perangkat-perangkat tarbiyah lainya.

Sebagai sarana tarbiyah mukhoyyam berfungsi sebagai: Sarana tajammu’, tarbiyah dan tadribah kader dengan mukhoyyam para kader dapat berkumpul untuk berinteraksi, saling mengenal, saling memahami, bekerja sama dan saling menolong. Para peserta juga mendapatkan shibghah islami, melatih disiplin, melatih berbagai ketrampilan maupun keahlian yang sangat bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam kondisi-kondisi tertentu. (dihimpun dari berbagai sumber).
Read More

Mukhoyyam

2 comments
Mukhoyyam. yup! Perkemahan kalau dalam istilah umum. Mukhoyyam sendiri bisa dikatakan sebagai suatu kewajiban yang tingkatannya sama dengan kewajiban usar (liqo’), tatsqif, dauroh, tatsqif, mabit dan sarana tarbiyah lainnya. Tidak perduli tua atau muda, senior atau pun pemula. Dan mukhoyyam pun harus ditunaikan baik dalam kondisi lapang maupun sempit, dalam kondisi rizki melimpah ataupun seret. Sebab, mestinya setiap kader dakwah sudah jauh-jauh hari menyiapkan waktu dan amal untuk menyongsong event serius ini.


Bekal Mukhoyyam

Ini merujuk pada suatu ayat, "Berangkatlah kamu baik dalam keadaan ringan ataupun merasa berat, dan dan berjihadlah dengan harta dan jiwa pada jalan Alloh. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." (QS. At-Taubah [9] :41)

Inilah yang menjadikanku "nekat" untuk tetap hadir di kegiatan mukhoyyam ini. Nekat, kok? hmmmm... bagaimana bisa dikatakan tidak nekat, sehari sebelum mukhoyyam, seusai pulang kerja sekira jam 3 sore, ke asrama untuk mengkondisikan anak2 asrama, sekaligus menyiapkan barang2 yang akan ku gunakan mukhoyyam, carrierbag seukuran 60 liter penuh dengan pakaian, jas hujan, obat2an, makanan, lampu darurat, matras.. hmmmm....

Setelah itu, langsung cabut... pulang ke Grobogogan, pulang ke rumah... dengan motor plus nggendong carrierbag full. Hujan... dari Jogja jam setengah 5 sore, sampai rumah jam setengah 9 malam. Secara, jarak Jogja - Karangrayung (Grobogan) sekira 140 km via Nogosari, Boyolali. Eh, kenapa kok musti pulang ke rumah? Besok mau mukhoyyam kan? Hmmmm iya Brooo... soalnya, pada hari yang sama, adikku mau piknik ke Bali. Makanya ane pulang dan ngasih uang saku ke adik, ngasih power bank, ngasih tablet, dan juga biar dia bisa pamitan ma ane. Adik satu2nya soalnya.

Naaah ini ni yang kadang bisa dianggap "gila" oleh sebagian orang... setelah tidur sebentar... bangun jam setengah 2, qiyyamullail, kemudian jam setengah 3 pagi cabut ke Jogja lagi, masih dengan naek motor plus ngegendong carrierbag. Sampai di Jogja jam setangah 5 pagi, mampir pom bensin buat sholat shubuh dan mandi. Selesai mandi langsung menuju ke DPC PKS Ngemplak, Sleman.

Naaaah... di sini dimulai petualangan mukhoyyam itu. Walaupun sebenarnya,sejak SMA ane sudah gak asing lagi dengan yang namanya kemah, karena ane memang aktif di kepramukaan (Dewan Ambalan dan juga Saka Bhayangkara). Tapi untuk mukhoyyam ini adalah pengalaman pertama yang ane rasakan. Hmmmmm...


Perkemahan masa SMA
Dan sekarang, perkemahan kader atau mukhoyyam ini lebih seru dan menantang dan pastinya full hikmah dan full ukhuwah. Bagaimana tidak, di sana kita bertemu dengan saudara2 kita yang sebelumnya tidak kita kenal. Karena mukhoyyam ini tidak hanya diikuti oleh kelompok halaqoh kita saja. tapi seluruh kader dari DPD Sleman dan Kulon Progo sejumlah sekitar 300an orang. Sholat 5 waktu wajib jama'ah, target tilawah perhari satu juz, pushup - backup - situp masing2 50 kali perhari. dengan tenda seadanya, masak sendiri, wajib qiyyamullail berjamaah setiap malamnya, dan banyak hal lagi.

Kesabaran dan militansi semakin teruji ketika hujan datang, kegiatan tetap berlanjut. Materi2 yang diajarkan selama mukhoyyam inipun sangat bagus, mulai dari tali-temali, PBB, Outbond, wawasan kebangsaan dan bela negara, materi P3K, dan lain2. Dan yang paling berkesan adalah ketika di ahir sesi, yaitu acara yang paling terahir.. Long March 6 jam menyusuri perbukitan Menoreh. Naik turun bukit, menyebrangi sungai, melintasi desa, memasuki hutan. Long March dengan jarak tempuh yg sedemikian jauh, dengan beban carrierbag 60 liter di punggung, hanya istirahat beberapa kali saat sholat tiba.

Subhanallah...



Sebelum pemberangkatan, di depan kantor DPC PKS Ngemplak

Logo Pandu Keadilan

Inilah indahnya ukhuwah... inilah indahya tarbiyah...
Read More
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home

Translate